Rabu, 03 Januari 2018

Problema Morfologis Bahasa Indonesia



Problema Morfologis Bahasa Indonesia

            Setiap bahasa, termasuk bahasa indonesia dalam pemakaiannya selalu timbul masalah-masalah , baik masalah yang berhubungan dengan bunyi, bentuk kata, penulisan, maupun pemakaian kalimat. Hal itu desebabka oleh sifat bahasa yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan pikiran dan budaya pemakai bahasa yang bersangkutan. Maka dari itu tmbulnya masalah kebahasaan pada bahasa tertentu. Pemakaian kata dalam bahasa indonesia juga menimbulkan problema-problema. Ada tujuh problema yaitu,

1.      Problema Akibat Bentuk Baru
Bentuk memberhentikan dan memberlakukan tergolong bentuk baru sebab bentuk yang berkontruksi demikian (yaitu profiks + prefiks + bentuk dasar + sufiks) sebelumnya tidak ditemukan.konstruksi ini terdiri atas empat morfem, tetapi pembentukannya tidak serentak. Konstrusi ini dibentuk secara bertahap seperti pada diagram berikut.
 
Dari terlihat bahwa bentuk dasar konstruksi memberhentikan adalah berhenti, sedangkan bentuk dasar konstruksi memberlakukan adalah berlaku, dan bukan henti dan laku. Bentuk henti dan laku adalah bentuk asal dari konstruksi itu. dengan demikian, meskipun terdapat dua prefiks, konstruksi itu tetap dibenarkan salin bentuk menghentikan dan melakukan.
Konstruksi dikesanakan dan dikekirikan merupakan bentuk baru dari hasil analogi bentuk dikemukakan dan dikesampingkan. Kostruksi ini berbentuk dasar frase, yaitu ke sana, ke kiri, ke samping, ke muka. Konstruksi ini dibenarkan karena tidak selalu monomorfonemis, tetapi dapat juga polimorfemis, bisa dua morfem, tiga morfem, empat morfem. Begitu juga bentuk dasar suatu konstruksi dapat berbentuk morfem terikat dan morfem bebas, baik kata maupun frase.
Kostruksi turinisasi dan lelenisasi juga merupakan bentuk bari sebagai akibat perlakuan bentuk afiks asing dalam proses morfologis bahasa indonesia. Afiks {-(n)isasi} berasal dari bahasa inggris. Bentuk ini apabila menempel pada bentuk dasar bahasa yang bersangkutan, misalnya modernisasi (modernazation) dan mekanisasi (mechanization) berarti ‘hal yang berhubungan dengan bentuk dasarnya’ yang berfungsi pembedaan secara abstrak. Setalah terserap kedalam bentuk bahasa indonesia, afiks {-(n)isasi} dicoba digabungkan dengan bentuk bahasa indonesia untuk arti dan fungsi yang sama, misalnya dengan bentuk dasar turi dan lele, sehingga timbulah konstruksi turinisasi dan lelenisasi.

2.      Problema Akibat Kontaminasi
Kontaminasimerupakan gejala bahasa yang mengacukan konstruksi kebahasaan. Dua konstruksi, yang mestinya harus berdiri sendiri secara terpisah, dipadukan menjadi satu konstruki. Akibatnya, konstruksi itu menjadi kacau atau rancu artinya. Misalnya diperlebarkan dan dipelajarkan.
Konstriksi diperlebarkan merupakan hasil pencampuradukan konstruksi diperlebar dan dilebarkan yang masing-masing berarti ‘dibuat jadi lebih besar lagi’ dan ‘dibuat jadi lebar’. Maka dari itu konstruksi diperlebarkan dianggap sebagai konstruksi yang rancu.
Kostruksi dipelajarkan merukana hasil pencampuran konstruksi dipelajari dan diajarkan, yang masing-masing mempunyai arti tersendiri. Dengan pencampuran itu artinya menjadi kabur. Oleh sebab itu, bentukitu dikatakan sebagai konstruksi yang rancu.
Jadi dalam pemecahan masalh ini, pemakai bahasa indonesia harus mengetahui konstruksi yang semestinya untuk arti tertentu. Juga mengetahui konstruksi-konstruksi yang tergolong rancu dan mengetahui sebabnya. dengan cara itu kita dapat jelih dan cermat memilih, menggunakan, dan menerangkan setiap pembentukan kata.

3.      Problema Akibat Adanya Unsur Serapan
Adanya unsur bahasa asing yang terserap kedalam bahasa indonesia juga juga membuat problema. Terlihat pada kekacauan dan keraguan pemakaian bentuk data-data, datum-datum, data, datum; fakta-fakta, faktum-faktum, fakta, faktum. Kata data dan datun, fakta dan faktum berasal dari bahasa Latin, yang masing-masing pasangan itu berarti ‘jamak’ atau ‘tunggal’. Dari pasangan itu yang terserap dalam bahasa indonesia hanyalah bentuk jamaknya, yaitu data, fakta, sedangkan bentuk tunggalnya yaitu datum dan faktum yang tidak terserap ke dalam bahasa indonesia.

4.      Problema Akibat Analogi
Analogi adalah bentukan bahasa dengan menurut contoh yang sudah ada. Gejala analogi ini sangat penting dalam pemakaian bahasa sebab pada dasarnya pemakaian bahasa dalam penyusunan kalimat, frase, dan kata beranalogi. Contohnya dengan adanya bentuk ketidakadilan kita dapat membentuk konstruksi  ketidakberesan, ketidakadilan.
Masalah berikut dengan adanya gejala analogi ini adalah banyaknya pemkai bahasa (indonesia) yang slaah analogi, ini disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap bentuk-bentuk yang sudah dicontohkan dan di buatnya. Misanya kata pihak dijadikan *fihak, kata anggota dijadikan *anggauta.
Kata pihak dijadika *fihak, contoh bahwa bunyi [p] pada unsur serapan dikembalikan kebunyi aslinya yaitu [f]. Dengan demikian kata kata pikir, paham, dan pasal dikembaliakan mejadi fikir, faham, dan fasal. Pengembalian ini benar sebab kata pikir, paham dan pasal berasal dari Arab. Kata fihak disangkanya juga berasal dari Arab, padah tidak berasal dari bahasa Arab, tetapi dari bahasa Melayu. Oleh sebab itu kata fihak dianggap sebagai hasil dari analogi yang salah.
Begitupun juga kata anggota yang dijadikan *anggauta. Orang mengaggap bahwa kata anggota sebagai hasil sandi dari kata anggauta, padahal itu bukan hasil sandi melainkan kata itu memang asli. Maka dari itu, kata *anggauta dianggap hasil analogi yang salah. Yang benar adalah anggota.

5.      Problema Akibat Perlakuan Kluster
Klauster atau konsonan rangkap mengadung problema tersendiri dalam pembentuka kata bahaha indonesia. Ini disebabkan bahwa kata bahasa indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata kluster itu berasal dari unsur serapan. Misalnya program, proklamasi. Kata-kata ini apabila dibentuk dengan afiks yang bernasal, misalnya {meN-(kan/i)} dan (peN-(an)} akan menimbulkan probelam.
I                                               II
Memprogramkan                     memrogramkan
Pemprograman                        pemrograman
Pemproklamasian                    memroklamasikan
Pemproklamasian                    pemroklamasikan
Apabila menurut sistem bahasa indonesia, kita cenderung memilih/menggunakan deretan II. Tetapi, ada beberapa keberatan/kelemahanya, antara lain:
a.       Bentuk serapan dia atas berbeda sifatnya dengan bentuk dasar bahasa indonesia asli, yaitu konsonan rangkap dan tidak (walaupun keduanya berawalan dengan k, p, t, s)
b.      Apabila diluluhkan, kemungkinan besar akan menyulitkan penelusuran kembali bentuk aslinya.
c.       Ada beberapa bentuk yang dpat menimbulkan kesalahpahaman arti.
Oleh sebab itu, sebaiknya memilih deretan I, yaitu tidak meluluhkan bunyi awal bentuk serapan yang berkluster.

6.      Problema Akibat Proses Morfologis Bentuk Serapan
Hanmpir semua bentuk serapan dalam bahasa indonesia dapat dibentuk dengan penambahna afiks atau pengulangan. Bentuk serapan dapat dikelompokkan menjadi dua:
1.      Bentuk srapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa indonesia sehingga sudah tidak terasa lagi keasingannya.
2.      Bentuk srapn yang masih baru sehingga masih terasa keasingannya.
Bentuk serapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa indonesia, termasuk proses morfologisnya. Sedangkan kelompok kedua, belum dapat diperlakukan secara penuh mengikuti sistem bahasa indonesia.

7.      Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk
Problema ini dapat diperlhat dari persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban dan pertanggung jawab, kewarganegaraan dan kewargaan negara. Dari dua contoh tersebut terlihat dua perlakuan bentuk majemuk, yaitu bentuk majemuk yang unsur-unsurnya dianggap sebagai satu kesatuan, dan bentuk majemuk yang unsur-unsurnya dianggap renggang. Pendapat pertama menganggap unsur-unsur bentuk tanggung jawab dan warga negara tidak mungkin disisipi bentuk lain diantaranya. Apabila ditempeli awalan atau akhiran, itu harus diletakkan di awal unsur pertama dan/unsur yang kedua. Sebaliknya, pendapat kedua menganggap unsur-unsur bentuk tanggung jawab dan warga negara renggang sehingga memungkinkan disispi bentuk lain diantaranya.
Suatu bentuk dikatakan bentuk majemuk apabila unsur-unsurnya pekat dan padu. Sebaliknya, apabila unsur-unsurnya longgar tidak lagi dikatakan sebagai bentuk majemuk, tetapi frase. Dengan demikian, pendapat pertam yang tepat, yaitu pendapat yang memperlakukan unsur-unsur bentuk majemuk sebagai satu kesatuan.


Daftar Pustaka
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian Ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...