Rabu, 03 Januari 2018

Perubahan Bentuk Kata



Perubahan Bentuk Kata

            Perubahan bentuk kata disebabkan oleh oleh adanya perubahan beberapa kata asli karena pertumbuhan dalam bahasa itusendiri, atau karena perubahan bentuk dari kata-kata pinjam. Perubahan-perubahan bentuk kata dalam suatu bahasa lazim disebut gejala bahasa. Badudu (1981:47) dalam bukunya Pelik-Pelik Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa bahasa ialah “peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pemebentukannya”. Ada beberapa macam gejala sebagai berikut.

A.    Analogi
Analogi merupakan salah satu cara pembentukan kata baru, yang disebut analogi adalah suatu bentukan bahasa degan meniru contoh yang sudah ada. Pembentukan kata-kata baru (analogi) sangat penting sebab pembentukan kata baru dapat memperkaya perbendahara bahasa. Misalnya:
Menyatakan laki-laki
Menyatakan perempuan
Saudara        /a/
Saudari             /i/
Pemuda        /a/
Pemudi             /i/
Siswa           /a/
Siswi                /i/
Mahasiswa  /a/
Mahasiswi        /i/

Fonem /a/ dan /i/ pada bentukan kata tersebut tidak ubahnya berfungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin. Selain itu, terdapat pula bentukan yang dibentuk dari kata-kata asli, misalnya bnetuk-bentuk seperti sosialisme, sosialis, dan hedonisme.

B.     Adaptasi
Bahasa indonesia selalu dipengaruhi oleh bahasa asing dan bahasa daerah. Dari pengaruh itu diperkaya oleh kata-kata asing dan daerah untuk melengkapi perkembangannya. Kata-kata yang diambil dari bahasa asing selalu mengalami penyesuaian (adaptasi) dengan penerimaan pendengaran, ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya, dan struktur bahasanya. Maka ari itu yang disebut dengan adaptasi adalah perubahan bunyi dan struktur bahasa asing menjadi bunyi dan struktur  yang sesuai dengan penerimaan pendengaran atau ucapan lidah bangsa pemakai pemakai bahasa yang dimasukinya.  Adaptasi atau penyesuaian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu adaptasi fonologis dan adaptasi morfologis.
1.      Adaptasi fonologis adalah penyesuaian perubahsan bunyi bahasa asing menjadi bunyi yang sesuai dengan ucapan lidah bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya. Adaptasi menekankan pada lafal bunyi, misalnya  sebagai berikut.
         Bahasa Asing atau Daerah
Bahasa yang Dimasukinya
Fadlu         (Arab)
peduli
Dhahir       (Arab)
lahir
Zonder       (Belanda)
pakansi
Zaal            (Belanda)
sal
Trampil      (Jawa)
terampil
Kraton        (Jawa)
keraton

2.      Adaptasi Morfologis  adalah peneyesuaian struktur bentuk kata. Tentu saja perubahan struktur bentuk kata ini pasti berpengaruh pada perubahan bunyi, misanya sebagai berikut.
                  Bahasa Asing
Bahasa yang Dimasukinya
schilwacht         (Belanda)
sekliwak
Parameswari     (Sansekerta)
permaisuri
Prahara             (Sansekerta)
perkara

C.    Kontaminasi
Dalam bahasa indonesia, kata kontaminasi sama dengan kerancuan. Kata rancu berarti ‘campur aduk’, `tumpang tindih’, ‘kacau’. Kata rancu (kerancuan) dipakai sebaga istilah yang berkaitan dengan percampuradukan dua unsur bahasa (imbuhan, frase, atau kalimat) yang tidak wajar. Ketidak wajaran dapat diuraikan sebagai berikut.
1.      Dinasionalisirkan
2.      Dipublisirkan
Pada contoh di atas, kerancuan akhiran {-ir} (belanda) dengan akhiran {-kan} berfungsi membentuk kata kerja. Kedua bentuk terakhir sama artinya. Bentuk kata kerja di atas dlam pemakaian bahasa indonesia bersaing dengan kata-kata dinasionalisasikan dan dipublikasikan, yang hanya terjadi satu kali proses pembentukannya, yaitu dari kata nasional dan kata benda publikasi. Peristiwa itu disebut kontaminasi bentukan kata.

D.    Hiperkorek
Gejala heperkorek merupakan proses pembentukan yang sudah betul lalu malah menjadi salah. Maksudnya, sesuatu yang sudah betul dibetulkan lagi, yang akhirnya menjadi salah, setidaknya dianggap bentuk yang tidak baku. Gejala ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a.       Fonem /s/ menjadi /sy/;
Sehat               menjadi           syehat
Insaf                manjadi           insyaf
Saraf                menjadi           syaraf
b.      Fonem /h/ menjadi /kh/;
Ahli                  menjadi           akhil
Hewan             menjadi           khewan
Rahim              menjadi           rakhim
c.       Fonem /p/ menjadi /f/;
Pasal               menjadi           fasal
Paham             menjadi           faham
d.      Fonem /j/ menjadi /z/;
Ijazah              menjadi           izazah
Jenazah           menjadi           zanazah

E.     Varian
Gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vokal /a/ pada sufiks {-kan} menjadi /ǝ/. Misalnya:
Direncanakan       menjadi           direncanaken
Digalakkan            menjadi           digagalken
Diambilkan           menjadi           diambilken      
Membacakan         menjadi           membacaken


F.     Asimilasi
Gejala asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama. Misalnya:
Alsalam     ˃          assalam           ˃          asalam
Inmoral     ˃          immoral           ˃          imoral
Mertua       ˃          mentua            ˃

G.    Dismilasi
Dismilasi adalah proses berubahanya dua morfem yang sama menjadi tidak sama. Misalnya:
Vanatara   (Sansekerta)    ˃         belantara
Rapprort    (Belanda)        ˃          lapor
Lauk-lauk  (Melayau)        ˃          lauk pauk

H.    Adisi
Gejala adisi adalah perubahan yang terjadi dalam suatua tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dapat dibedakan atas protesis, epentensis, dan paragog.
1.      Protesis adalah proes penambahan fonem pada awal kata.
Lang                ˃          elang
Mas                 ˃          emas
stri                   ˃          istri
2.      Epentensis  ialah proses penambahan fonem di tengah kata.
General           ˃          jenderal
Racana            ˃          rencana
Upama                        ˃          umpama
3.      Paragog ialah proses penambahan fonem pada akhir kata.
lamp                ˃          lampu
hulubala          ˃          hulubalang
ina                   ˃          inang



I.       Reduksi
Gejala reduksi adalah peristiwa pengurangan fonem dalam suatu kata. Gejalan reduksi dapat dibedakan atas afresis, sinkop, dan apokop.
1.      Afresia ialah proses penghilangan fonem apada awal kata.
upawasa          ˃          puasa
telentang          ˃          tentang
tatapi               ˃          tetapi               ˃          tapi
2.      Sinkop ialah penghilangan fonem ditengah-tengah kata.
sahaya             ˃          saya
kelamarin        ˃          kemarin
bahasa             ˃          base
3.      Apokop  ialah penghilangan fonem di akhir kata.
pelangit           ˃          pelangi
import              ˃          posesif
possesiva         ˃          impor  

J.      Metatesis
Matatesis suatu pertukaran, adalah perubahan kata yang fonem-fonemnya bertukar tempatnya. Contoh:
rontal               ˃          lontar
beting              ˃          tebing
kelikir              ˃          kerikil

K.    Diftongisasi
Diftongisasi adalah proses perubahan suatu monoftong jadi diftong. Contoh:
sodara             ˃          saudara
suro                 ˃          suara
pulo                 ˃          pulau



L.     Monoftongisasi
Monoftongisasi adalah proses perubahan suatu diftong (gugus vokal) menjadi monoftong. Contoh:
 gurau              ˃          guro
bakau              ˃          bako
sungai              ˃          sunge

M.   Anaptiksis
Anaptikis adalah proses perubahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya. Contoh:
putra                ˃          putera
putri                 ˃          puteri
slok                  ˃          seloka

N.    Haplologi
Haplologi adalah proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Contoh:
sarnanantra                 ˃          sementara
budhidaya                   ˃          budaya
mahardhika                 ˃          merdeka

O.    Kontraksi
Kontraksi adalah gejala yang memperlihatkan adanya satu atau lebih fonem yang dihilangkan. Kadang-kadang ada perubahan atau penggantian fonem. Contoh:
bahagianda                 ˃          baginda
tidak ada                     ˃          tiada
perlahan-lahan            ˃          pelan-pelan





Daftar Pustaka

Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian Ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara
Badudu, J.S. 1981. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Ce. XVII. Bandung: Pustaka Prima

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...