ARTI MORFEM
IMBUHAN, MORFEM ULANG,
DAN MORFEM
KONTRUKSI MAJEMUK
A. Arti Morfem Imbuhan
Yang dimaksud dengan Arti
pada pembicara ini bukanlah arti sebuah kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal, tetapi arti sebagai
akibat bergabungnya morfem satu dengan morfem yang lain, arti struktural atau arti
gramatikal (masnur Mushlich. 2010: 66). Contohnya seperti kata kuda, yang berarti ‘hewan yang berkaki
empat, biasa yang dipergunakan dalam menggeret kereta/dokar’, tetapi setelah
kata kuda mendapat imbuhan {ber-}
sehingga menjadi kata berkuda, yang
artinya ‘mengendarai kuda’. Akibat bergambungnya morfem itulah yang dibicarakn
disini. Ada 22 morfem inbuhan yaitu,
1. Morfem Imbuhan {meN}
Arti morfem imbuhan {meN-} sangat bergantung pada kelas
kata bentuk dasarnya (masnur Mushlich. 2010: 66). Artinya, apabila bentuk
dasarnya berkelas kata kerja, imbuhan {meN-} mempunyai arti ‘melakukan
tindakan’, misalnya pada kata membaca,
menulis, menarik, memukul, menjerat, begitu juga {meN-} melekat pada kata hilang, sehingga menjadi menghilang, arti {meN-} sudah beda lagi.
Contoh imbuhan {meN-} yang mempunyai beberapa arti,
a.
‘melakukan tindakan seperti yang tersebut pada bentuk
dasarnya’:
-
Mengambil ‘melakukan tindakan ambil’
-
Menjual ‘melakukan
tindakan jul’
b.
‘menjadi seperti tersebut dalam bentuk dasar ‘atau’ dalam
keadaan seperti bentuk dasarnya’:
-
Melarut ‘menjadi/dalam
keadaan larut’
-
Meluap ‘menjadi/dalam
keadaan luap’
c.
‘membuat kesan seperti pada bentuk dasar dengan sengaja’
-
Mengalah ‘membuat kesan kalah dengan
sengaja’
-
Membisu ‘membuat
kesan bisu dengan sengaja’
Apabila bentuk
dasarnya kelas kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa arti:
a.
‘pergi ke...’ atau ‘menuju ke...’ misalnya:
-
Mendarat ‘menuju
ke darat’
-
Malaut ‘menuju
ke laut’
b.
‘Berlaku seperti pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-
Membabi buta ‘berlaku
seperti babi buta’
-
Meraja lela ‘berlaku seperti raja lela’
c.
‘Meyerupai seperti bentuk dasar’ misalanya’
-
Menyemut ‘menyerupai semut’
-
Membukit ‘menyerupai bukit’
Apabila bentuk
dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti:
a.
‘menjadi bentuk dasar dengan sendirinya’
-
Menguning ‘menjadi kuning dengan
sendirinya’
-
Membusuk ‘menjadi
busuk dengan sendirinya’
b.
‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasarnya’:
-
Memanjang ‘menimbulkan kesan panjang (Penunggu
Bukit barisan memanjang ke utara sepanjang Pulau Sumatera)
-
Merendah hati ‘menimbulkan kesan rendah hati’
2. Morfem Imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan {ber-} dapat
di kelompokkan empat kelas kata, yaitu berkelas kata kerja, benda, sifat,
bilangan, contohnya:
Apabila bentuk dsarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan
{ber-} mempunyai arti sebagai berikut:
a.
‘dalam keadaan seperti bentuk dasarnya’
-
Berada ‘dalam keadaan ada’
-
Berkembang ‘dalam keadaan (meng)kembang)
b.
‘menjadi seperti bentuk dasar’
-
Berubah ‘menjadi ubah’
c.
‘Melakukan seperti bentuk dasar’
-
Bekerja ‘melakukan kegiatan kerja’
-
Berlari ‘melakukan kegiatan lari
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, imbuhan
{ber-} mempunyai arti:
a.
‘memakai’ atau ‘mengenakan’
-
Berseapatu ‘memakai atau mengenakan sepatu’
-
Berdasi ‘
memakai atau memngenakan dasi’
b.
‘Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’
misalnya:
-
Bersuami ‘mempunyai suami’
-
Berkumis ‘mempunyai kumis’
c.
‘mengeluarkan’ misalnya:
-
Berdarah ‘mengeluarkan darah’
-
Bersuara ‘mengeluarkan suara’
Apabila bentuk
dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.
‘dalam keadaan’ misalnya:
-
Berduka ‘dalam keadaan duka’
-
Bergembira ‘dalam keadaan gembira’
Apabila bentuk
dasarnya berkelas kata bilangan, imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.
‘menjadi’ atau ‘kumpulan yang terdiri atas jumlah yang
tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-
Bersatu ‘ kumpulan yang terdiri atas
satu, berdua, berempat, berlima’
Bila da proses pengulangan pada kelas kata bilangan, maka
imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.
‘dalam jumlah kelipatan seperti bentuk dasar’ misalnya:
-
Berpuluh-puluh ‘dalam jumlah kelipatan sepuluh’
3. Morfem Imbuhan {di-}
Arti imbuhan {di-} hanya satu yaitu, ‘menyatakan suatu
tindakan yang pasif’. Misalnya, diambil, diangkat, disiram, dibayar. Pengertian
pasif ini berarti tidak disengaja atau tidak melakukan apapun sama sekali.
Tetapi, pengrtian pasif disini semata-mata dihubungkan dengan fungsi subjeknya.
4. Morfem Imbuhan {ter-}
Bentuk dasar yang
apat bergabung dengan imbuhan {ter-} adalah bentuk dasar yang berkelas kata
kerja, kata sifat, kata benda. Bila awalan {ter-} melekat pada kata benda,
makan akan menimbulkan arti seperti:
a.
‘tak sengaja di (seperti bentuk dasarnya)’:
-
Tercangkul ‘tak sengaja dicangkul’
-
Tersendok ‘tak
sengaja disendok’
b.
‘dapat di (seperti bentuk dasarnya) kan/i’:
-
Tergambar ‘dapat digambarkan’
-
Terpengaruh ‘dapat dipengaruhi’
Apabila bentuk
dasarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ter-} mempunyai arti:
a.
‘menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan disengaja’
misalnya:
-
Tersentuh ‘sengaja disentuh’
-
Tergeret ‘sengaja digeret’
b.
‘dapat’ atau ‘sanggup’ misalnya:
-
Terangkat ‘ meskipun berat, batu itu
terangkat juga’
-
Terkejar ‘ akhirnya terkejar juga’
Apabila bentuk
dasarnya berkelas kata sifat, maka imbuhan {ter-} mempunyai arti:
-
Terpandai ‘paling pandai’
-
Terpedek ‘paling
pendek’
5. Morfem Imbuhan {peN-)
Bentuk dasar yang
dapat bergambung dengan {peN-} ialah bentuk dasar yang berkelas kata kerja, sifat,
benda. Dengan begitu kelas kata yang bergambung dengan imbuhan {peN-} mempunyai
asrti:
a.
Menyataka ‘otrang yang (biasa) melakukan pekerjaan
yang-sebuat pada bentuk dasarnya:
-
Pengarang ‘orang yang (biasa)
melakukan mengarang’
-
Penjual ‘ orang yang (biasa) melakukan
menjual’
b.
Menyatakan ‘alat yang dipaki untuk melakukan tindakan
yang tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
-
Penggaris ‘alat untuk menggaris’
-
Pengangkut ‘alat untuk mengangkut’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka imbuhan
{peN-} mempunyai arti:
a.
Menyatakan ‘ yang memiliki sifat tersebut pada bentuk
dasar’ misalnya:
-
Periang ‘yang mempunyai sifat riang’
-
Peramah ‘yang mempunyai sifat ramah’
b.
Menyatakan ‘yang menyebabkan adanya sifat yang tersbut
pada bentuk dasar’ misalnya:
-
Pengeras ‘yang menyebabkan jadi keras’
atau ‘yang mengeraskan’
-
Pendingin ‘yang menyebabkan jadi dingin’
atau ‘yang mendinginkan’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka imbuhan
{peN-} mempunyai arti ‘yang bisa melakukan tindakan/pekerjaan yang berhubungan
dengan benda pada bentuk dasarnya’ atau ‘orang yang meN-........ seperti bentuk
dasar’ contoh:
-
Pelaut ‘orang yang biasa melaut’
-
Perantau ‘orang
yang biasa merantau’
-
Perokok ‘orang
yang biasa merokok’
6. Morefem Imbuhan {pe-}
Morefem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem
imbuhan (ber-) sedangkan morfem imbuhan (peN-) mempunyai kesejajaran dengan
morfem imbuhan (meN-) contohnya:
-
Pelari ‘orang yang berlari’
-
Petani ‘orang yang bertani’
-
Pedagang ‘orang yang berjuang’
Dibandingkan
dengan:
-
Penulis ‘orang yang menulis’
-
Pembaca ‘orang yang membaca’
-
Penyapu ‘orang
yang menyapu
Dalam bahasa indonesia, morfem imbuhan (pe-) hanya mempunya satu arti yaitu
‘ orang yang bisa/pekerjaanya/gemar melakukan tindakan yang tersebut pada
bentuk dasar.
7. Morfem Imbuhan {per-}
Morfem imbuhan dapat bergabung dengan bentuk dasar yang
berkelas kata benda, bilangan, sifat. Apabila bergandeng dengan bentuk dasar
kata benda, {per-} mempunyai arti ‘ menjadikan (objek) sebagai’ memperlakukan
(objek) sebagai’: sedangkan apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata bilang,
imbuhan {per-i} mempunyai arti ‘membuat jadi, dan apabila bergandeng dengan
bentuk dasar yang berkelas kata sifat {per-} mempunyai arti ‘membuat jadi
lebih’. Contoh:
-
Peristri ‘menjadikan (objek) sebagai
istri’
-
Perbudak ‘memperlakukan (objek) sebagai
budak’
-
Pertiga ‘membuat jadi tiga’
-
Perdalam ‘menjadi lebih dalam’
Jadi dapat
disimpulkan bahwa arti imbuhan {per-} menyatakan ‘kuasatif’.
8. Morfem Imbuhan {se-}
Morfem imbuhan {se-}
bisa bergandeng dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda. Contoh:
a.
Menyatakan ‘satu’ misalnya:
-
Sebuah ‘satu buah’
-
Seminggu ‘satu minggu’
b.
Menyatakan ‘seluruh’ misalnya:
-
Sedunia ‘seluruh dunia’
-
Seisi buku ‘seluruh isi buku’
c.
Menyatakan ‘sama’ atau ‘sebesar...’ misalnya:
-
Sepak bola ‘sama dengan kepala’ atau
‘sebesar kepala’
-
Sekucing ‘sama dengan kucing’ atau
‘sebesar kucing’
Bentuk kata sifat bisa dilekati morfem {se-} misalnya
secantik, segenit, setampan, sebaik dan bisa juga dalam konstruksi seperti
sesudah, sebelum, seketika. Jadi makna {se-} jika bergabung dengan kata sifat
adalah ‘sama seperti bentuk dasar’ atau ‘sama-sama,,,’ atau ‘sama,,,-nya’.
Dalam konstruksi dengan awalan {se-} tidak bermakna, tetapi berfungsi sebagai
‘penanda hubung’ atau ‘penanda kewaktuan’ saja.
9. Morfem Imbuhan {ke-}
Bentuk {ke-} itu ada dua macam, yaitu sebagai kata
imbuhan dan sebagai kata depan. Imbuhan {ke-} seperti kesepuluh, kedua, kekasih, sedangkan sebagai kata depan seperti ke Surabaya, ke sini, ke situ.
Pada dasarnya morfem imbuhan {ke-} melekat pada bentuk
dasar yang berkelas kata bilangan. Ada juga yang melekat pada bentuk dasar
selain kata bilangan misalnya, ketua,
kerangka, kekasih.
Apabila imbuhan {ke-} bergandengan dengan bentuk dasar
berkelas kata bilangan, maka imbuhan itu mempunyai arti sebagai berikut:
a.
‘menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang
tersebut pada bentuk dasar. Misalnya:
-
Kelima (anak itu anak
saya) ‘kumpulan anak yang terdiri
atas lima orang’
-
Kedua (kuda itu dari
Sumbawa) ‘ kumpulan anak yang terdiri
atas dua ekor’
b.
‘menyatakan urutan aseperti apa yang tersebut pada bentuk
dasarnya’. misalnya:
-
(anak) kelima ‘urutan anak yang nomor
lima’
-
(istri) kedua ‘urutan istri yang nomor
dua’
Apabila bergandeng dengan bentuk dasar selain kata
bilangan, maka imbuhan {ke-} itu berarti ‘yang di,,,’ atau ‘yang dianggap’.
Misalnya kekasih ‘yang dikasihi’ kerangka (kerangka laporan) ‘yang
dianggap rangka’.
10. Morfem Imbuhan {-kan}
Sehubungan dengan morfem imbuhan {-kan} ini ialah bentuk
yang merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah {meN-kan} dan
{di-kan}seperti melakukan dan di jalankan. Yang dibicarak di sini ialah {-kan}
yang tidak merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah, tetapi merupakan
morfem tersendiri dan mempunyai arti sendiri dalam pembentukan kata, misalnya membacakan, membelikan, menuliskan.
Morfem {-kan) bisa melekat pada kata benda. Misalnya artikan, kanfaskan, bukukan. Bisa dngan
kata kerja. Misalnya kerjakan, berikan,
bacakan. Dan juga bisa melekat pada kata sifat. Misalnya hitamkan, putihkan, licinkan. Sudah
tidak asing lagi bahwa bentuk-bentuk utuhnya selalu bergandeng dengan morfem
{meN-}.
Arti morfem afiks {-kan} bisa dideskripsikan seperti:
a.
‘membuat (objek) seperti bentuk dasar’ atau ‘kuasatif:
-
Meningkatkan ‘membuat (objek) menjadi tinggi’
-
Menyempitkan ‘membuat (objek) menjadi
sempit’
b.
‘melakukan sesuatu untuk orang lain’ atau ‘me,,(objek)
untuk orang lain’ atau ‘benefaktif’:
-
Membacakan ‘membaca untuk orang lain’
-
Membelikan ‘membeli untuk orang lain’
c.
‘melakukan sesuatu secara intensif’:
-
Mendengarkan ‘mendengarkan dengan intensi’
-
Membalikkan ‘membalik dengan intensif’
d.
Melakukan seperti bentuk dasar pada/tentang
sesuatu/tentang sesuatu’ atau transitif:
-
Mengadukan ‘mengadu (pada sesorang) tentang
sesuatu’
-
Mengajarkan ‘mengajar (pada seseorang)
tentang sesuatu’
11. Morfem Imbuhan {-i}
Seperti morfem imbuhan {-kan} morfem imbuhan {-i} juga
merupakan morfem tersendiri yang mempunyai arti sendiri dalam pembentukan kata.
Bentuk ini bukan merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah {meN-kan} dan
{di-i} seperti menduduki, mendatangi, disakiti. Morfem {i}biasanya bergabung
dengan bentuk komplek yang berkelas kata kerja dan biasanya mempunya dua
kemungkinan arti. Seperti:
a.
‘Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk
dasar itu dilakukan berulang-ulang’ misalnya:
-
Melempari ‘melempar
berulang-ulang’
-
Mengambil ‘mengambil
berulang-ulang’
b.
‘Menyatakan ‘melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk
dasarnya di suatu tempat’, misalnya:
-
Menulis ‘menulis di,,,,’
-
Menanami ‘menanam di,,’
c.
‘melakukan sesuatu atau yang terjadi sesuatu pada..’
-
Meliputi ‘meliput pada’
-
Mengenai ‘mengena pada’
12. Morfem Imbuhan {-a}
Moerfem mbuhan {-an} dapat bergabung dengan bentuk dasar
kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Apabila bergandeng dengan
bentuk dasar kata benda, morfem imbuhan{-an} mempunyai arti:
a.
Menyatakan ‘tiap-tiap’. Contoh:
-
Metran ‘tiap-tiap meter’
-
Bulanan ‘tiap-tiap bulan’
b.
‘kumpulan’ atau ‘yang banyak....nya’ atau luas...nya’
contoh:
-
Durian ‘banyak durian’
-
Rambutan ‘banyak rambutan’
Apabila bergandeng dengan kata dasar kata kerja, morfem imbuhan {-an}
memiliki arti:
a.
Menyatakan ‘hasil atau akibat dari tindakan yang tersebut
pada bentuk dasar, misal:
-
Pikiran ‘hasil memikir’
-
Tangkapan ‘hasil menangkap
b.
Menyatakan ‘alat yang digunakan dalam tindakan yang
tersebut pada bentuk dasar’ misal:
-
Saringan ‘alat menyaring’
-
Ukuran ‘alat mengukur’
Makna morfem {-an}, bila bergabung dengan kata sifat, seperti:
-
Kotoran ‘yang kotor’
-
Dataran ‘yang datar’
-
Manisan ‘yang manis’
13. Morfem Imbuhan {-wan}
Morfem imbuhan {-wan} dapat melekat pada bentuk dasar
kata benda. Seperti sejarawan, negarawan,
hartawan. Makna imbuhan {-wan} sebagai berikut:
a.
‘orang yang ahli dalam bidang seperti bentuk dasar’.
Misalnya:
-
Ilmuwan ‘orang
yang ahli dalam bidang ilmu’
-
Budayawan ‘orang yang ahli dalam bidang budaya’
b.
‘orang yang pekerjaanya khusus dalam bidang seperti
bentuk dasar’ misanyal:
-
Wartawan ‘orang yang pekerjaanya khusus
dalam bidang warta’
-
Usahawan ‘orang
yang pekerjaanya khusus dalam bidang cipta usaha’
14. Morfem Afiks {-el-}, {-er-}, {-em-}
Perubahan arti merupakan sala satu syarat disebutnya
suatu bentuk yang telah mengalami proses morfologis. Pembahsa bahasa indonesia
menulis bahwa sisipan (morfem infiks) adlaah alat afiksasi, dan afiksasi adalah
salah satu jalan proses morfologis. Bentuk telunjuk,
misalnya berarti ‘jari tangan yang biasa yang digunkaan untuk menunjuk’. Bentuk
itu merupakan hasil proses afiksasi –el-
+ tunjuk. Bentuk dasar tunjuk bermakna ‘hal menunjuk’. Jadi timbulnya makna
‘jari tangan’ pada telunjuk disebkan kehadira –el-.
15. Morfem imbuhan {ke-an}
Bentuk aar yang dapat dilekati morfem imbuhan{ke-an} pada
umumnya berkelas kata benda, kerja, sifat, dan bilangan. Makna morfem imbuhan
{ke-an} sebagai berikut”
a.
Menyatakan ‘suatu abstraksi atau hal dari bnetuk dasar’
misalany:
-
Keberangkatan ‘hal berangkat’
-
Kepergian ‘hal pergi’
-
Kemanusian ‘hal manusia’
b.
Menyatakan ‘menderita atau dikenai apa yang tersebut pada
bentuk dasar’ misalnya:
-
Kedinginan ‘menderita/dikenai
dingin’
-
Kehujanan ‘dikenai
hujan’
c.
Menyatakan ‘tempat’ atau ‘daerah’ misalanya:
-
Kelurahan ‘tempat’
daerah lurah’
-
Kecamatan ‘tempat’
daerah camat’
16. Morfem Imbuhan {peN-an}
Morfem imbuhan {peN-an} bisa bergabung dengan kata benda (peghargaan, pengairan, penanaman), kata
kerja (pengajaran, pendidikan,
penghabisan), kata sifat (pengadilan,
pemutihan, pengasingan), kata bilangan (penyatuan).
Arti morfem imbuhan {peN-an} dapat diartitkan sebagai berikut:
a.
‘hal/proses’
-
Pemeriksaan ‘hal/proses memeriksa’
-
Pembacaan ‘hal/proses membaca’
b.
‘hal/hasil’
-
Pengalaman ‘hal/hasil mengalami’
-
Penghasilan ‘hal/hasil dan
menghasilkan’
c.
‘tempat’
-
Penggilingan ‘tempat menggiling’
-
Pengadilan ‘tempat mengadili’
17. Morfem imbuhan {per-an}
Setelah melekat pada bentuk dasarnya, morfem imbuhan
{per-an} memiliki tiga kemungkinan arti, yaitu:
a.
Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan apa yang
tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-
Perekonomian ‘hal-hal
yang berhubungan dengan ekonomi’
-
Perjudian ‘hal-hal
yang berhubungan dengan judi
b.
Menyatakan ‘hala atau hasil dari suatu tindakan yang
tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-
Perkembangan ‘hal
berkembang’
-
Perdamaian ‘hal
berdamai’
c.
Menyatakan ‘kumpulan’ atau ‘daerah’ misalanya:
-
Pertokoan ‘
daerah toko’
-
Perumahan ‘kumpulan/daearah
rumah’
18. Morfem Imbuhan {ber-an}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan morfem imbuhan
{ber-an}adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja saja. Morfem imbuhan
{ber-an} memiliki makna sebagai berikut:
a.
Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk
dasarnya dilakukan oleh banyak orang’ misalnya:
-
Berjatuhan ‘banyak yang jatuh’
-
Berdatangan ‘banyak yang datang’
b.
Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya
dilakukan secara berulang-ulang’ misalnya:
-
Berloncatan ‘berloncat
berulang-ulang’
-
Berlarian ‘berlarian
berulang-ulang’
c.
Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk
dasarnya dilakukan oleh dua pihak yang saling mengenai’ misalnya:
-
Berpandangan ‘saling memandang’
-
Berpukulan ‘saling memukul’
19. Morfem Imbuhan Afiks {meN-kan}
Morfem imbuhan {meN-kan} bisa bergabung dengan kata
kerja, misalnya melaksanakan,
mengirimkan, menjalankan. Makna {meN-kan} sangat bergantung ada bentuk
dasarnya. seperti:
a.
‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’
mialnya:
-
Mencerminkan ‘menjadikan
(objek) sebagai cermin’
-
Membukukan ‘menjadikan
(objek) sebagai buku’
b.
‘membuat (objek) (melakukan tindakan) seperti bentuk
dasar’ misalnya:
-
Menidurkan ‘membuat
(objek) (melakukan) tidur’
-
Mendatangkan ‘membuat
(objek) datang’
c.
‘memberi (objek) sesuatu seperti bentuk dasar’ misalnya:
-
Mengizinkan ‘memberi
(objek) izin’
-
Menjanjikan ‘memberi
(objek) janji’
-
20. Morfem Afiks {meN-i}
Sebagai konfks, morfem {meN-i} dapat berganbung dengan
kata benda, misalnya memusuhi, menempati,
mewakili, dengan kata kerja misalnya mengawini,
menulisi, menduduki, dengan kata sifat misalnya menyukai, mematuhi, menikmati. Arti morfem {meNi} sebagai berikut:
a.
‘menjadikan (objek) sebagai bentuk dasar’ misalnya
-
Memusuhi ‘menjadikan (objek)
sebagai musuh’
-
Menempati ‘menjadikan (objek) sebagai tempat’
b.
‘memberi (objek) sebagia bentuk dasar’ misalnya:
-
Melukai ‘memberi
(objek) luka’
-
Menghargai ‘memberi (objek) harga’
c.
‘jadi seperti bentuk dasar di/dalam (objek’ misalnya:
-
Merajai ‘jadi
raja dalam (objek)’
-
Menokohi ‘jadi
tokoh di dalam (objek)’
21. Morfem Afiks {se-nya}
Berbeda dengan se-
pada sebesar yang berarti ‘sama’ dan
‘-nya’ pada bukunya yang bermakna ‘milik orang ketinga tunggal. Konfiks ini
bisa melekat pada kata sifat, misalnya sepenuhnya,
sewajarnya, dengan kata kerja misalnya seadanya,
sebaliknya, dengan kata tugas misalnya seandainya,
sebelumnya, semestinya. Gabungan {se-nya} dengan bentuk dasar kata sifat
itu lazim sekali di ulang seperti setinggi-tingginya,
sebesar-besarnya. Konfiks {se-nya} mempunyai arti:
a.
‘pembentuk adverbia/keterangan’ misalnya: Sebaliknya, seandainya, selanjutnya.
b.
‘pembentuk modalitas’ misalnya: sebenarnya, sekianya, semestinya.seharusnya.
22. Morfem afiks {-isme}, {-is}asi}, {-logi}
Afiks ini dapat di pungut dari bahasa asing,
morfem-morfem amat prosduktif dalam pembentukan kata. Ia bisa melekat pada
bentuk dasar asli bahasa indonesia. Makna {-isme} adalah ‘paham, aliran sifat’
misalnya kolobotisme, bapakisme,
golkarisme. Morfem {is}asi} bisa bermakna proses atau ‘peN-bentuk dasar-an’
misalnya helmisasi, turinisasi,
tiwulisasi yang bermakna ‘proses penghelman’, sementara {-login} berarti
‘studi tentang seperti bentuk dasar’ misalnya Jawanologi ‘studi/pengkajian tentang jawa’, Balinologi ‘stidi/pengkajian tentang bali’.
B. Arti Morfem Ulang
Morem ulang bahsa indonesia dapat membentuk kata dengan
bentuk dasar yang berkels kata kerja, benda, dan sifat. Morfem ulang ini ada
juga yang berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata.
Misalnya dengan ke-an dalam kuning-kuningan, kebiru-biruan, dan
keheran-heranan, dan dengan se-nya
dalam sebaik-baikya, sekecil-kecilnya,
dan sekuat-kuatnya, dan dengan –an
dalam rumah-rumahan, sepeda-sepedaan,
orang-orangan.
Apabila bentuk dasrnya berkelas kata kerja, maka morfem
ulang mempunyai arti:
a.
Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk
dasar dilakukan berulang-ulang’ misalnya:
-
Memukul-mukul ‘memukul
berulang-ulang’
-
Mengiris-iris mengiris berulang-ulang’
b.
Menyatakan bahwa ‘‘tindakan yang tersebut pada bentuk
dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai’/’berbalasan’ misalnya
-
Bantu membantu ‘saling membantu’
-
Tinju meninju ‘saling meninju’
c.
Menytakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang
bersangkut paut dengan bentuk dasar’ misalnya:
-
Cetak-mencetak ‘hal-hal ynag berhubungan
dengan mencetak’
-
Coret-mencoret ‘hal-hal ynag berhubungan
dengan mencoret’
Apbila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka morfem
ulang mempunyai makna sebagai berikut:
a.
Menyataka ‘banyak’ misalnya:
-
Kemaju-majuan ‘banyak
kemajuan
-
Orang-orang ‘banyak
orang’
b.
Menyatakan ‘meskipun’ misalnya:
-
Beras-beras
(dimakannya) ‘meskipun beras
(dimakannya)’
-
Darah-darah
(diminumnya) ‘meskipun darah
(diminumnya)’
Apabila bentuk
dasrnya berkelas kata sifat, maka mempunyai arti sebagai berikut:
a.
Apabila berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan
‘agak’ misalnya:
-
Kehijau-hijauan ‘agak hijau’
-
Kemerah-merahan ‘agak
merah’
b.
‘meskipun seperti bentuk dasar’ misalnya:
-
Jelej-jelek (dia
itu setia) ‘meskipun jelek’
-
Kecil-kecil (tapi
amat dibuthkan) ‘meskipun kecil’
C. Arti Morfem Konstrruksi Majemuk
Kata majemuk dapat
diklarifikasikan kedalam tiga kelompok.
1.
Beranggotakan kambing
hitan, meja hijau, lembar hitam, apa boleh buat, bertekuk lutu, membabi buta,
hidumh belang, naik daun. Arti kata majemuk kelompok pertama lepas sekali
dari unsur-usurnya. Disebut arti absolut.
2.
Beranggotakan rumah
makan, rumah sakit, kamar kecil, mata air, istri muda, kamar tunggu, dengar
pendapat, sepak bola, tolak peluru. Maknakata majemuk kelompok keua, tidak
sesulit memahami kelompokpertama. Kata majemuk ini konsepnya masih mengandung
unsur ‘bertemu’ dan ‘berbicara’. Seperti rumah
sakit, rumah makan, kamar kecil, meski sudah bermakna ‘baru’ dari unsurnya,
masing mengandung “bau” ‘rumah’, ‘sakit’, ‘makan’.
3.
Beranggotakan tua
renta, tua bangka, muda belia, malam kelam, naik pitam, hitam lengan, anak
pitam. Mendadak sontak. Morfem unik bahasa indonesia apabila bergandeng
dengan morfem lain dapat membentuk-bentuk majemuk. Morfem unik yang bergandeng
ada dua jenis, yaitu berjenis kata kerja dan berjenis kata sifat. Yang berjenis
kata kerja misalnya lalu dalam lau lalang, dan simpang dalam simbpang siur.
Sedangkan kata sifat misalnya tua
dalam tua bangka, sunyi dalam sunyi senyap. Jenis morfem yang di ikuti morfem unik akan
berpengaruh dalam penentuan arti morfem unik itu sendiri.
Daftar Pustaka
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian Ke Arah Tata
Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar