Rabu, 03 Januari 2018

Arti Morfem Imbuhan, Morfem Ulang, dan Morfem Konstruksi Majemuk



ARTI MORFEM IMBUHAN, MORFEM ULANG,
DAN MORFEM KONTRUKSI MAJEMUK

A.    Arti Morfem Imbuhan
Yang dimaksud dengan Arti pada pembicara ini bukanlah arti sebuah kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal, tetapi arti sebagai akibat bergabungnya morfem satu dengan morfem yang lain, arti struktural atau arti gramatikal (masnur Mushlich. 2010: 66). Contohnya seperti kata kuda, yang berarti ‘hewan yang berkaki empat, biasa yang dipergunakan dalam menggeret kereta/dokar’, tetapi setelah kata kuda mendapat imbuhan {ber-} sehingga menjadi kata berkuda, yang artinya ‘mengendarai kuda’. Akibat bergambungnya morfem itulah yang dibicarakn disini. Ada 22 morfem inbuhan yaitu,
1.      Morfem Imbuhan {meN}
Arti morfem imbuhan {meN-} sangat bergantung pada kelas kata bentuk dasarnya (masnur Mushlich. 2010: 66). Artinya, apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, imbuhan {meN-} mempunyai arti ‘melakukan tindakan’, misalnya pada kata membaca, menulis, menarik, memukul, menjerat, begitu juga {meN-} melekat pada kata hilang, sehingga menjadi menghilang, arti {meN-} sudah beda lagi. Contoh imbuhan {meN-} yang mempunyai beberapa arti,
a.       ‘melakukan tindakan seperti yang tersebut pada bentuk dasarnya’:
-          Mengambil            melakukan tindakan ambil’
-          Menjual                 ‘melakukan tindakan jul’
b.      ‘menjadi seperti tersebut dalam bentuk dasar ‘atau’ dalam keadaan seperti bentuk dasarnya’:
-          Melarut                  menjadi/dalam keadaan larut’
-          Meluap                  ‘menjadi/dalam keadaan luap’
c.       ‘membuat kesan seperti pada bentuk dasar dengan sengaja’
-          Mengalah              membuat kesan kalah dengan sengaja’
-          Membisu                ‘membuat kesan bisu dengan sengaja’           
Apabila bentuk dasarnya kelas kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa arti:
a.       ‘pergi ke...’ atau ‘menuju ke...’ misalnya:
-          Mendarat               ‘menuju ke darat’
-          Malaut                   ‘menuju ke laut’
b.      ‘Berlaku seperti pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-           Membabi buta      berlaku seperti babi buta’
-          Meraja lela            ‘berlaku seperti raja lela’
c.       ‘Meyerupai seperti bentuk dasar’ misalanya’
-          Menyemut              menyerupai semut’
-          Membukit              ‘menyerupai bukit’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti:
a.       ‘menjadi bentuk dasar dengan sendirinya’
-          Menguning            ‘menjadi kuning dengan sendirinya’
-          Membusuk             ‘menjadi busuk dengan sendirinya’
b.      ‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasarnya’:
-          Memanjang           ‘menimbulkan kesan panjang (Penunggu Bukit barisan memanjang ke utara sepanjang Pulau Sumatera)
-          Merendah hati       ‘menimbulkan kesan rendah hati’
2.      Morfem Imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan {ber-} dapat di kelompokkan empat kelas kata, yaitu berkelas kata kerja, benda, sifat, bilangan, contohnya:
Apabila bentuk dsarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti sebagai berikut:
a.       ‘dalam keadaan seperti bentuk dasarnya’
-          Berada                  dalam keadaan ada’
-          Berkembang          ‘dalam keadaan (meng)kembang)
b.      ‘menjadi seperti bentuk dasar’
-          Berubah                ‘menjadi ubah’
c.       ‘Melakukan seperti bentuk dasar’
-          Bekerja                  melakukan kegiatan kerja’
-          Berlari                   ‘melakukan kegiatan lari
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.       ‘memakai’ atau ‘mengenakan’
-          Berseapatu                        ‘memakai atau mengenakan sepatu’
-          Berdasi                  ‘ memakai atau memngenakan dasi’
b.      ‘Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-          Bersuami               ‘mempunyai suami’
-          Berkumis               ‘mempunyai kumis’
c.       ‘mengeluarkan’ misalnya:
-          Berdarah               mengeluarkan darah’
-          Bersuara               ‘mengeluarkan suara’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.       ‘dalam keadaan’ misalnya:
-          Berduka                 dalam keadaan duka’
-          Bergembira           ‘dalam keadaan gembira’       
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata bilangan, imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.       ‘menjadi’ atau ‘kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-          Bersatu                  ‘ kumpulan yang terdiri atas satu, berdua, berempat, berlima’
Bila da proses pengulangan pada kelas kata bilangan, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti:
a.       ‘dalam jumlah kelipatan seperti bentuk dasar’ misalnya:
-          Berpuluh-puluh     ‘dalam jumlah kelipatan sepuluh’
3.      Morfem Imbuhan {di-}
Arti imbuhan {di-} hanya satu yaitu, ‘menyatakan suatu tindakan yang pasif’. Misalnya, diambil, diangkat, disiram, dibayar. Pengertian pasif ini berarti tidak disengaja atau tidak melakukan apapun sama sekali. Tetapi, pengrtian pasif disini semata-mata dihubungkan dengan fungsi subjeknya.
4.      Morfem Imbuhan {ter-}
Bentuk dasar yang apat bergabung dengan imbuhan {ter-} adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja, kata sifat, kata benda. Bila awalan {ter-} melekat pada kata benda, makan akan menimbulkan arti seperti:
a.       ‘tak sengaja di (seperti bentuk dasarnya)’:
-          Tercangkul            ‘tak sengaja dicangkul’
-          Tersendok              ‘tak sengaja disendok’
b.      ‘dapat di (seperti bentuk dasarnya) kan/i’:
-          Tergambar            ‘dapat digambarkan’
-          Terpengaruh         ‘dapat dipengaruhi’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ter-} mempunyai arti:
a.       ‘menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan disengaja’ misalnya:
-          Tersentuh              sengaja disentuh’
-          Tergeret                 ‘sengaja digeret’
b.      ‘dapat’ atau ‘sanggup’ misalnya:
-          Terangkat              meskipun berat, batu itu terangkat juga’
-          Terkejar                 ‘ akhirnya terkejar juga’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka imbuhan {ter-} mempunyai arti:
-          Terpandai              paling pandai’
-          Terpedek               ‘paling pendek’
5.      Morfem Imbuhan {peN-)
Bentuk dasar yang dapat bergambung dengan {peN-} ialah bentuk dasar yang berkelas kata kerja, sifat, benda. Dengan begitu kelas kata yang bergambung dengan imbuhan {peN-} mempunyai asrti:
a.       Menyataka ‘otrang yang (biasa) melakukan pekerjaan yang-sebuat pada bentuk dasarnya:
-          Pengarang                        orang yang (biasa) melakukan mengarang’
-          Penjual                  ‘ orang yang (biasa) melakukan menjual’
b.      Menyatakan ‘alat yang dipaki untuk melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
-          Penggaris              ‘alat untuk menggaris’
-          Pengangkut           ‘alat untuk mengangkut’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka imbuhan {peN-} mempunyai arti:
a.       Menyatakan ‘ yang memiliki sifat tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
-          Periang                 ‘yang mempunyai sifat riang’
-          Peramah               ‘yang mempunyai sifat ramah’
b.      Menyatakan ‘yang menyebabkan adanya sifat yang tersbut pada bentuk dasar’ misalnya:
-          Pengeras               ‘yang menyebabkan jadi keras’ atau ‘yang mengeraskan’
-          Pendingin              ‘yang menyebabkan jadi dingin’ atau ‘yang mendinginkan’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka imbuhan {peN-} mempunyai arti ‘yang bisa melakukan tindakan/pekerjaan yang berhubungan dengan benda pada bentuk dasarnya’ atau ‘orang yang meN-........ seperti bentuk dasar’ contoh:
-          Pelaut                    ‘orang yang biasa melaut’
-          Perantau               ‘orang yang biasa merantau’
-          Perokok                 ‘orang yang biasa merokok’
6.      Morefem Imbuhan {pe-}
Morefem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan (ber-) sedangkan morfem imbuhan (peN-) mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan (meN-) contohnya:
-          Pelari                    orang yang berlari’
-          Petani                    orang yang bertani’
-          Pedagang              ‘orang yang berjuang’
Dibandingkan dengan:
-          Penulis                  orang yang menulis’
-          Pembaca               ‘orang yang membaca’
-          Penyapu                ‘orang yang menyapu
Dalam bahasa indonesia, morfem imbuhan (pe-) hanya mempunya satu arti yaitu ‘ orang yang bisa/pekerjaanya/gemar melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar.
7.      Morfem Imbuhan {per-}
Morfem imbuhan dapat bergabung dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda, bilangan, sifat. Apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata benda, {per-} mempunyai arti ‘ menjadikan (objek) sebagai’ memperlakukan (objek) sebagai’: sedangkan apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata bilang, imbuhan {per-i} mempunyai arti ‘membuat jadi, dan apabila bergandeng dengan bentuk dasar yang berkelas kata sifat {per-} mempunyai arti ‘membuat jadi lebih’. Contoh:
-          Peristri                  ‘menjadikan (objek) sebagai istri’
-          Perbudak               memperlakukan (objek) sebagai budak’
-          Pertiga                  membuat jadi tiga’
-          Perdalam              ‘menjadi lebih dalam’
Jadi dapat disimpulkan bahwa arti imbuhan {per-} menyatakan ‘kuasatif’.

8.      Morfem Imbuhan {se-}
Morfem imbuhan {se-} bisa bergandeng dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda. Contoh:
a.       Menyatakan ‘satu’ misalnya:
-          Sebuah                  ‘satu buah’
-          Seminggu              ‘satu minggu’
b.      Menyatakan ‘seluruh’ misalnya:
-          Sedunia                 ‘seluruh dunia’
-          Seisi buku              ‘seluruh isi buku’
c.       Menyatakan ‘sama’ atau ‘sebesar...’ misalnya:
-          Sepak bola             ‘sama dengan kepala’ atau ‘sebesar kepala’
-          Sekucing                ‘sama dengan kucing’ atau ‘sebesar kucing’
Bentuk kata sifat bisa dilekati morfem {se-} misalnya secantik, segenit, setampan, sebaik dan bisa juga dalam konstruksi seperti sesudah, sebelum, seketika. Jadi makna {se-} jika bergabung dengan kata sifat adalah ‘sama seperti bentuk dasar’ atau ‘sama-sama,,,’ atau ‘sama,,,-nya’. Dalam konstruksi dengan awalan {se-} tidak bermakna, tetapi berfungsi sebagai ‘penanda hubung’ atau ‘penanda kewaktuan’ saja.
9.      Morfem Imbuhan {ke-}
Bentuk {ke-} itu ada dua macam, yaitu sebagai kata imbuhan dan sebagai kata depan. Imbuhan {ke-} seperti kesepuluh, kedua, kekasih, sedangkan sebagai kata depan seperti ke Surabaya, ke sini, ke situ.
Pada dasarnya morfem imbuhan {ke-} melekat pada bentuk dasar yang berkelas kata bilangan. Ada juga yang melekat pada bentuk dasar selain kata bilangan misalnya, ketua, kerangka, kekasih.
Apabila imbuhan {ke-} bergandengan dengan bentuk dasar berkelas kata bilangan, maka imbuhan itu mempunyai arti sebagai berikut:
a.       ‘menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya:
-          Kelima (anak itu anak saya)          ‘kumpulan anak yang terdiri atas lima orang’
-          Kedua (kuda itu dari Sumbawa)   ‘ kumpulan anak yang terdiri atas dua ekor’

b.      ‘menyatakan urutan aseperti apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’. misalnya:
-          (anak) kelima                     ‘urutan anak yang nomor lima’
-          (istri) kedua                       ‘urutan istri yang nomor dua’
Apabila bergandeng dengan bentuk dasar selain kata bilangan, maka imbuhan {ke-} itu berarti ‘yang di,,,’ atau ‘yang dianggap’. Misalnya kekasih ‘yang dikasihi’ kerangka (kerangka laporan) ‘yang dianggap rangka’.
10.  Morfem Imbuhan {-kan}
Sehubungan dengan morfem imbuhan {-kan} ini ialah bentuk yang merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah {meN-kan} dan {di-kan}seperti melakukan dan di jalankan. Yang dibicarak di sini ialah {-kan} yang tidak merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah, tetapi merupakan morfem tersendiri dan mempunyai arti sendiri dalam pembentukan kata, misalnya membacakan, membelikan, menuliskan.
Morfem {-kan) bisa melekat pada kata benda. Misalnya artikan, kanfaskan, bukukan. Bisa dngan kata kerja. Misalnya kerjakan, berikan, bacakan. Dan juga bisa melekat pada kata sifat. Misalnya hitamkan, putihkan, licinkan. Sudah tidak asing lagi bahwa bentuk-bentuk utuhnya selalu bergandeng dengan morfem {meN-}.
Arti morfem afiks {-kan} bisa dideskripsikan seperti:
a.       ‘membuat (objek) seperti bentuk dasar’ atau ‘kuasatif:
-          Meningkatkan                    membuat (objek) menjadi tinggi’
-          Menyempitkan                   ‘membuat (objek) menjadi sempit’
b.      ‘melakukan sesuatu untuk orang lain’ atau ‘me,,(objek) untuk orang lain’ atau ‘benefaktif’:
-          Membacakan                     membaca untuk orang lain’
-          Membelikan                       ‘membeli untuk orang lain’
c.       ‘melakukan sesuatu secara intensif’:
-          Mendengarkan                  mendengarkan dengan intensi’
-          Membalikkan                     ‘membalik dengan intensif’
d.      Melakukan seperti bentuk dasar pada/tentang sesuatu/tentang sesuatu’ atau transitif:
-          Mengadukan                     mengadu (pada sesorang) tentang sesuatu’
-          Mengajarkan                     ‘mengajar (pada seseorang) tentang sesuatu’

11.  Morfem Imbuhan {-i}
Seperti morfem imbuhan {-kan} morfem imbuhan {-i} juga merupakan morfem tersendiri yang mempunyai arti sendiri dalam pembentukan kata. Bentuk ini bukan merupakan bagian dari morfem imbuhan terbelah {meN-kan} dan {di-i} seperti menduduki, mendatangi, disakiti. Morfem {i}biasanya bergabung dengan bentuk komplek yang berkelas kata kerja dan biasanya mempunya dua kemungkinan arti. Seperti:
a.       ‘Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang’ misalnya:
-          Melempari                         ‘melempar berulang-ulang’
-          Mengambil                        ‘mengambil berulang-ulang’
b.      ‘Menyatakan ‘melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya di suatu tempat’, misalnya:
-          Menulis                              ‘menulis di,,,,’
-          Menanami                         ‘menanam di,,’
c.       ‘melakukan sesuatu atau yang terjadi sesuatu pada..’
-          Meliputi                             meliput pada’
-          Mengenai                          ‘mengena pada’
12.  Morfem Imbuhan {-a}
Moerfem mbuhan {-an} dapat bergabung dengan bentuk dasar kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata benda, morfem imbuhan{-an} mempunyai arti:
a.       Menyatakan ‘tiap-tiap’. Contoh:
-          Metran                   ‘tiap-tiap meter’
-          Bulanan                 ‘tiap-tiap bulan’
b.      ‘kumpulan’ atau ‘yang banyak....nya’ atau luas...nya’ contoh:
-          Durian                   ‘banyak durian’
-          Rambutan              ‘banyak rambutan’
Apabila bergandeng dengan kata dasar kata kerja, morfem imbuhan {-an} memiliki arti:
a.       Menyatakan ‘hasil atau akibat dari tindakan yang tersebut pada bentuk dasar, misal:
-          Pikiran                  hasil memikir’
-          Tangkapan            ‘hasil menangkap
b.      Menyatakan ‘alat yang digunakan dalam tindakan yang tersebut pada bentuk dasar’ misal:
-          Saringan                ‘alat menyaring’
-          Ukuran                  ‘alat mengukur’
Makna morfem {-an}, bila bergabung dengan kata sifat, seperti:
-          Kotoran                 ‘yang kotor’
-          Dataran                 yang datar’
-          Manisan                ‘yang manis’
13.  Morfem Imbuhan {-wan}
Morfem imbuhan {-wan} dapat melekat pada bentuk dasar kata benda. Seperti sejarawan, negarawan, hartawan. Makna imbuhan {-wan} sebagai berikut:
a.       ‘orang yang ahli dalam bidang seperti bentuk dasar’. Misalnya:
-          Ilmuwan                ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu’
-          Budayawan           ‘orang yang ahli dalam bidang budaya’
b.      ‘orang yang pekerjaanya khusus dalam bidang seperti bentuk dasar’ misanyal:
-          Wartawan              ‘orang yang pekerjaanya khusus dalam bidang warta’
-          Usahawan             ‘orang yang pekerjaanya khusus dalam bidang cipta usaha’
14.  Morfem Afiks {-el-}, {-er-}, {-em-}
Perubahan arti merupakan sala satu syarat disebutnya suatu bentuk yang telah mengalami proses morfologis. Pembahsa bahasa indonesia menulis bahwa sisipan (morfem infiks) adlaah alat afiksasi, dan afiksasi adalah salah satu jalan proses morfologis. Bentuk telunjuk, misalnya berarti ‘jari tangan yang biasa yang digunkaan untuk menunjuk’. Bentuk itu merupakan hasil proses afiksasi –el- + tunjuk. Bentuk dasar tunjuk bermakna ‘hal menunjuk’. Jadi timbulnya makna ‘jari tangan’ pada telunjuk disebkan kehadira –el-.
15.  Morfem imbuhan {ke-an}
Bentuk aar yang dapat dilekati morfem imbuhan{ke-an} pada umumnya berkelas kata benda, kerja, sifat, dan bilangan. Makna morfem imbuhan {ke-an} sebagai berikut”
a.       Menyatakan ‘suatu abstraksi atau hal dari bnetuk dasar’ misalany:
-          Keberangkatan                  ‘hal berangkat’
-          Kepergian                         ‘hal pergi’
-          Kemanusian                      ‘hal manusia’
b.      Menyatakan ‘menderita atau dikenai apa yang tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
-          Kedinginan                       ‘menderita/dikenai dingin’
-          Kehujanan                         ‘dikenai hujan’
c.       Menyatakan ‘tempat’ atau ‘daerah’ misalanya:
-          Kelurahan                          ‘tempat’ daerah lurah’
-          Kecamatan                                    ‘tempat’ daerah camat’
16.  Morfem Imbuhan {peN-an}
Morfem imbuhan {peN-an} bisa bergabung dengan kata benda (peghargaan, pengairan, penanaman), kata kerja (pengajaran, pendidikan, penghabisan), kata sifat (pengadilan, pemutihan, pengasingan), kata bilangan (penyatuan). Arti morfem imbuhan {peN-an} dapat diartitkan sebagai berikut:
a.       ‘hal/proses’
-          Pemeriksaan                     ‘hal/proses memeriksa’
-          Pembacaan                       ‘hal/proses membaca’
b.      ‘hal/hasil’
-          Pengalaman                      ‘hal/hasil mengalami’
-          Penghasilan                      ‘hal/hasil dan menghasilkan’
c.       ‘tempat’
-          Penggilingan                     ‘tempat menggiling’
-          Pengadilan                        ‘tempat mengadili’
17.  Morfem imbuhan {per-an}
Setelah melekat pada bentuk dasarnya, morfem imbuhan {per-an} memiliki tiga kemungkinan arti, yaitu:
a.       Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-          Perekonomian                   ‘hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi’
-          Perjudian                           ‘hal-hal yang berhubungan dengan judi
b.      Menyatakan ‘hala atau hasil dari suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya’ misalnya:
-          Perkembangan                   ‘hal berkembang’
-          Perdamaian                       ‘hal berdamai’
c.       Menyatakan ‘kumpulan’ atau ‘daerah’ misalanya:
-          Pertokoan                          ‘ daerah toko’
-          Perumahan                                    ‘kumpulan/daearah rumah’
18.  Morfem Imbuhan {ber-an}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan morfem imbuhan {ber-an}adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja saja. Morfem imbuhan {ber-an} memiliki makna sebagai berikut:
a.       Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh banyak orang’ misalnya:
-          Berjatuhan                                    ‘banyak yang jatuh’
-          Berdatangan                     ‘banyak yang datang’
b.      Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan secara berulang-ulang’ misalnya:
-          Berloncatan                       ‘berloncat berulang-ulang’
-          Berlarian                           ‘berlarian berulang-ulang’
c.       Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak yang saling mengenai’ misalnya:
-          Berpandangan                  ‘saling memandang’
-          Berpukulan                        ‘saling memukul’
19.  Morfem Imbuhan Afiks {meN-kan}
Morfem imbuhan {meN-kan} bisa bergabung dengan kata kerja, misalnya melaksanakan, mengirimkan, menjalankan. Makna {meN-kan} sangat bergantung ada bentuk dasarnya. seperti:
a.       ‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’ mialnya:
-          Mencerminkan                  ‘menjadikan (objek) sebagai cermin’
-          Membukukan                    ‘menjadikan (objek) sebagai buku’
b.      ‘membuat (objek) (melakukan tindakan) seperti bentuk dasar’ misalnya:
-          Menidurkan                       ‘membuat (objek) (melakukan) tidur’
-          Mendatangkan                  ‘membuat (objek) datang’
c.       ‘memberi (objek) sesuatu seperti bentuk dasar’ misalnya:
-          Mengizinkan                     ‘memberi (objek) izin’
-          Menjanjikan                      ‘memberi (objek) janji’
-           
20.  Morfem Afiks {meN-i}
Sebagai konfks, morfem {meN-i} dapat berganbung dengan kata benda, misalnya memusuhi, menempati, mewakili, dengan kata kerja misalnya mengawini, menulisi, menduduki, dengan kata sifat misalnya menyukai, mematuhi, menikmati. Arti morfem {meNi} sebagai berikut:
a.       ‘menjadikan (objek) sebagai bentuk dasar’ misalnya
-          Memusuhi                          menjadikan (objek) sebagai musuh’
-          Menempati                                    ‘menjadikan (objek) sebagai tempat’
b.      ‘memberi (objek) sebagia bentuk dasar’ misalnya:
-          Melukai                             ‘memberi (objek) luka’
-          Menghargai                       ‘memberi (objek) harga’
c.       ‘jadi seperti bentuk dasar di/dalam (objek’ misalnya:
-          Merajai                              ‘jadi raja dalam (objek)’
-          Menokohi                          ‘jadi tokoh di dalam (objek)’
21.  Morfem Afiks {se-nya}
Berbeda dengan se- pada sebesar yang berarti ‘sama’ dan ‘-nya’ pada bukunya yang bermakna ‘milik orang ketinga tunggal. Konfiks ini bisa melekat pada kata sifat, misalnya sepenuhnya, sewajarnya, dengan kata kerja misalnya seadanya, sebaliknya, dengan kata tugas misalnya seandainya, sebelumnya, semestinya. Gabungan {se-nya} dengan bentuk dasar kata sifat itu lazim sekali di ulang seperti setinggi-tingginya, sebesar-besarnya. Konfiks {se-nya} mempunyai arti:
a.       ‘pembentuk adverbia/keterangan’ misalnya: Sebaliknya, seandainya, selanjutnya.
b.      ‘pembentuk modalitas’ misalnya: sebenarnya, sekianya, semestinya.seharusnya.
22.  Morfem afiks {-isme}, {-is}asi}, {-logi}
Afiks ini dapat di pungut dari bahasa asing, morfem-morfem amat prosduktif dalam pembentukan kata. Ia bisa melekat pada bentuk dasar asli bahasa indonesia. Makna {-isme} adalah ‘paham, aliran sifat’ misalnya kolobotisme, bapakisme, golkarisme. Morfem {is}asi} bisa bermakna proses atau ‘peN-bentuk dasar-an’ misalnya helmisasi, turinisasi, tiwulisasi yang bermakna ‘proses penghelman’, sementara {-login} berarti ‘studi tentang seperti bentuk dasar’ misalnya Jawanologi ‘studi/pengkajian tentang jawa’, Balinologi ‘stidi/pengkajian tentang bali’.


B.     Arti Morfem Ulang
Morem ulang bahsa indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkels kata kerja, benda, dan sifat. Morfem ulang ini ada juga yang berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata. Misalnya dengan ke-an dalam kuning-kuningan, kebiru-biruan, dan keheran-heranan, dan dengan se-nya dalam sebaik-baikya, sekecil-kecilnya, dan sekuat-kuatnya, dan dengan –an dalam rumah-rumahan, sepeda-sepedaan, orang-orangan.
Apabila bentuk dasrnya berkelas kata kerja, maka morfem ulang mempunyai arti:
a.       Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’ misalnya:
-          Memukul-mukul                ‘memukul berulang-ulang’
-          Mengiris-iris                      mengiris berulang-ulang’
b.      Menyatakan bahwa ‘‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai’/’berbalasan’ misalnya
-          Bantu membantu               ‘saling membantu’
-          Tinju meninju                    ‘saling meninju’
c.       Menytakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar’ misalnya:
-          Cetak-mencetak                 ‘hal-hal ynag berhubungan dengan mencetak’
-          Coret-mencoret                 ‘hal-hal ynag berhubungan dengan mencoret’
Apbila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka morfem ulang mempunyai makna sebagai berikut:
a.       Menyataka ‘banyak’ misalnya:
-          Kemaju-majuan                ‘banyak kemajuan
-          Orang-orang                     ‘banyak orang’
b.      Menyatakan ‘meskipun’ misalnya:
-          Beras-beras (dimakannya)            ‘meskipun beras (dimakannya)’
-          Darah-darah (diminumnya)          ‘meskipun darah (diminumnya)’
Apabila bentuk dasrnya berkelas kata sifat, maka mempunyai arti sebagai berikut:
a.       Apabila berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan ‘agak’  misalnya:
-          Kehijau-hijauan                            ‘agak hijau’
-          Kemerah-merahan                        ‘agak merah’
b.      ‘meskipun seperti bentuk dasar’ misalnya:
-          Jelej-jelek (dia itu setia)                             meskipun jelek’
-          Kecil-kecil (tapi amat dibuthkan)              ‘meskipun kecil’

C.    Arti Morfem Konstrruksi Majemuk
Kata majemuk dapat diklarifikasikan kedalam tiga kelompok.
1.      Beranggotakan kambing hitan, meja hijau, lembar hitam, apa boleh buat, bertekuk lutu, membabi buta, hidumh belang, naik daun. Arti kata majemuk kelompok pertama lepas sekali dari unsur-usurnya. Disebut arti absolut.
2.      Beranggotakan rumah makan, rumah sakit, kamar kecil, mata air, istri muda, kamar tunggu, dengar pendapat, sepak bola, tolak peluru. Maknakata majemuk kelompok keua, tidak sesulit memahami kelompokpertama. Kata majemuk ini konsepnya masih mengandung unsur ‘bertemu’ dan ‘berbicara’. Seperti rumah sakit, rumah makan, kamar kecil, meski sudah bermakna ‘baru’ dari unsurnya, masing mengandung “bau” ‘rumah’, ‘sakit’, ‘makan’.
3.      Beranggotakan tua renta, tua bangka, muda belia, malam kelam, naik pitam, hitam lengan, anak pitam. Mendadak sontak. Morfem unik bahasa indonesia apabila bergandeng dengan morfem lain dapat membentuk-bentuk majemuk. Morfem unik yang bergandeng ada dua jenis, yaitu berjenis kata kerja dan berjenis kata sifat. Yang berjenis kata kerja misalnya lalu dalam lau lalang, dan simpang dalam simbpang siur. Sedangkan kata sifat misalnya tua dalam tua bangka, sunyi dalam sunyi senyap. Jenis morfem yang di ikuti morfem unik akan berpengaruh dalam penentuan arti morfem unik itu sendiri.




Daftar Pustaka

Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia, Kajian Ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...