Afiksasi dan Morfofonemik
v Afiksasi
Menurut Masnur
(2010:38) bahwa afiksasi adalah proses pembentukan
kata dengan cara membubuhkan afiks terhadap bentuk dasar, baik yang berupa
pokok kata, asaal, maupun bentuk-bentuk lainnya. Contohnya, pokok kata dengar setelah mengalami afiksasi –kan terbentukklah pokok kata kompleks dengarkan. Pokok kata kompleks dengarkan setelah mengalami afiksasi meN- terbentuklah kata kompleks mendengarkan.
Afiks merupakan bentuk linguistik,
kehadirannya dalam tuturan selalu melekatkan diri terhadap bentuk dasar untuk
menghasilkan kata kompleks. Artinya, afiks terkat baik secara morfologis maupun
secara semantis. Afiks tidak memiliki makna leksikal melainkan hanya memiliki
makna gramatikal.
Sedangkan Mulyono (2013:97) mengungkapkan
bahwa afiksasi dikatakan mendukung fungsi jika afiks itu mengubah kelas kata,
misalnya nomina menjadi verba, adjektifa menjadi verba, atau verba menjadi
nomina. Berikut afiksasi pembentukan kata.
1.
Fungsi Prefiks
a.
Afiks meN-
Bentuk dasar verba berafiks meN-. Misalnya:
Jadi, afiks meN-, memiliki satu fungsi, yakni membentuk verba, baik verba
transitif maupun verba intransitif dari kata verba, nomina dan adjektif. Makna
yang berfariasi seperti:
1.
‘Melakukan suatu
tindakan atau menyatakan suatu pekerjaan’ contoh: membaca, menunduk, mengambil.
2.
‘Menjadi seperti yang
dikemukakan bentuk dasar’ contoh: menghilang,
mencair, merendah, meluas, memerah.
3.
‘Menjadikan atau
mengubah sesuatu menjadi,,,seperti yang disebutkan dalam benuk dasar’ contoh: menceritakan, mempuisikan, memparafrasakan.
4.
‘Yang akan,,, seperti
yang disebutkan bentuk dasarnya’ contoh: mendatang.
5.
‘menuju ke,,, seperti
yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’ contoh: mendarat, menepi, menyamping.
6.
‘Sampai ke, seperti yang
disebutkan dalam bentuk dasarnya’ contoh: melangit.
7.
‘Dalam keadaan
menyerupai apa yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’ contoh: menggunung dan membukit.
b.
Afiks ber-
Bentuk dasar kata berafiks ber-
berupa verba, nomina dan adjektif walaupun sangat terbatas.

Adapun makna afiks ber- seperti berikut:
1.
‘Melakukan pekerjaan
tertentu, seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar (afiks intransitif)’.
Contoh: berakhir, berbaju, berkebun,
bertemu, bersandar.
2.
‘Memanggil dengan
sebutan tertentu, seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar’. Contoh: beribu, bertante, berayah, berpaman.
3.
‘Menggunakan atau
mengenakan sesuatau, seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar’. Contoh: bersepeda, bertongkat, berkursi roda,
berjaket.
4.
‘Dalam keadaan tertentu,
seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar’ contoh: bersuka ria, bersedih hati, bertiga, berenam.
5.
‘Mempunyai apa yang
disebutkan dalam bentuk dasar’ contoh: beristri,
berayah, bersaudara, dan berkaki.
c.
Afiks di-
Afiksasi di- hanya melekat pada bentuk dasar
yang berupa pokok kata, baik pokok kata tunggal maupun pokok kata multimorfem.
d.
Afiks ter-
Afiksasi ter-
mendukung fungsi membentuk verba pasif dari pokok kata, seperti dalam bentukan
kata tertutup, termakan, terbakar,
tersusun, tercium. Para ahli mengelompokkan pasif bentuk ter- ini sebagai pasif keadaan. Afiks ter- dan bentukan kompleks lainnya tidak
mendukung fungsi karena tidak mengubah jenis kata. Kata-kata kompleks bentuk ter- ini sama jenisnya dengan bentukan
dasarnya, yakni jenis adjektifa. Contoh: setiap pagi tercium bau sampah yang sangat menyengat.
e.
Afiksasi peN-
Kata yang berafiks peN- pada umumnya tergolong nomina, seperti kata pohon, pengedar, perawat, pengelas, pembawa.
Ada juga yang tergolong kata adjektifa seperti, (sangat) pemalas, pemarah (sekali), (yang) penakut. Walaupun kata tersebut bisa
tergolong nomina, seperti dalam frasa seorang
pemalas, seorang pemarah, seorang penakut. Afiks peN- memiliki kelompok makna gramatial yakni sebagi berikut:
1.
Makna ‘yang meN-,,,, atau makna melakukan sesuatu
yang disebutkan dalam bentuk dasar’. Contoh:
·
Pembeli :
‘orang atau pihak yang membeli’
·
Penyanyi :
‘orang yang menyayikan’
·
Pengamat :
‘orang atau pihak yang mengamati’
2.
Makna ‘alat atau sesuatu
yang menjadikan hak atau sifat tertentu, seperti yang disebutkan dalam bentuk
dasar’. Contoh:
·
Penahan :
‘alat untuk menahan’
·
Pemukul :
‘alat untuk memukul’
3.
Makna ‘yang memiliki
sifat tertentu, seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar’. Contoh:
·
Pemalas :
‘yang memiliki sifat mals’
·
Pemalu :
‘yang memiliki sifat malu’
4.
Makna ‘yang biasa
membuat atau menghasilkan sesuatu, seperti yang disebutkan dalam bentuk dasar’.
Contoh:
·
Penghibur :
‘yang menghasilakan huburan’
·
Pengarang :
’yang menghasilkan karangan’
5.
Makna ‘yang memper,,, seperti
yang disebutkan dalam bentuk dasar’. Contoh:
·
Pemerhati :
’ yang memperhatikan’
·
Pemersatu :
‘yang mempersatukan’
f.
Afiks per-
Afiks per-
memiliki dua macam fungsi, yakni membentuk nomina dari pokok kata yang
membentuk pokok kata dari adjektiva. Afiks per yang yang membentuk nomina
tergolong tidak produktif karena hanya ada bentukan pekerja dan pelajar.
Afiks per- yang berfungsi membentuk
pokok kata pada umumnya berbentuk dasar adjektifa, nomina dan pokok kata itu
sendiri. Namun dengan sangat tidak produktif, bisa juga berbentuk dasar
numerlia dan adverbia. contoh:
Makna gramatikal afiks per- menyatakan beberpa jenis makna yaitu:
1.
Makna ‘jadikan lebih’
jika bentuk dasarnya adjektiva. Contoh: perbesar,
percantik, permudah.
2.
Makna ‘jadikan,,,’ jika
bentuk dasarnya nomina. Contoh : peristri,
pertuan, perbudak.
3.
Makna ‘jadikan ber-,,,’
jika bentuk dasarnya numerlia. Contoh: persatukan.
4.
Makna perintah ‘lakukan
pekerjaan seperti yang disebut bentuk asar’ jika bentuk dasarnya pokok kata
dalam kombinasi dengan sufiks –kan.
Contoh: persilahkan, perlihatkan,
pertontonkan.
g.
Afiks pe-
Afiks pe-
yang memiliki satu alomorf, yakni pe-,
hanya memiliki satu fungsi gramatikal, yakni pembentukan nomina dari pokok
kata, dari vrba, dan dari nomina itu sendri. Contoh:
Makna gramatikal afiks pe- hanya ada satu
jenis yakni ‘seseorang atau sekelompok orang yang pekerjaanya atau tugasnya,
atau kebiasaanya, hobinya, atau keahliannya di bidang...atau dalam bidang
ber-...’ contoh:
·
Pesuruh : ‘orang yang kebiasaanya
disuruh atau bersuruh’
·
Pejalan kaki :
‘orang yang kebiasaannya berjalan kaki’
h.
Afiks ke-
Pada umumnya afiks ke- melekat pada bentuk dasar yang tergolong jenis numerlia,
seperti kesatu, ketiga. Ada juga ke- yang membentuk nomina namun
jumlahnya sangat terbatas, seperti kekasih,
kehendak, dan ketua. Dalam kombinasi dengan afiks –i, seperti dalam bentukan ketahui, ketuai, kehendaki. Afiks ke-
berfungsi membentuk pokok kata. Afiks ke-
hanya meiliki dua jenis makna yaitu, makna ‘urutan’
dan makna ‘kumpulan’.
Persoalan dalam penggunaan afiks ke-, yakni dalam pembentukan kata keluar yang memiliki makna yang
berlawanan dengan masuk. Afiks ke-
ini membentuk kata kerja dari nomina. Misalnya “Dia keluar sebentar”. Nanti dia pasti masuk lagi, ada bagian yang
dielipskan, yakni ruangan. Dalam kalimat lengkap yakni “dia ke luar rungan sebentar”, morfem ke- tergolong preposisi. Jadi dalam
kalimat morfem ke- bukanlah afiks melainkan proposisi. Afiks ke- hanya memiliki dua jenis makna
yaitu:
1.
Makna ‘urutan’
terkandung dalam bentukan frasa berikut.
·
(Deretan) kesatu
·
(Angkatan) ketiga
·
(Tingkatan) keenam
2.
Makan ‘kumpulan’
terkandung dalam bentukan frasa berikut.
·
Kedua (orang tua itu)
·
Ketiga (rumah itu)
·
Keenam (pasangan itu)
i.
Afiks se-
Afiks se- memiliki beberapa
fungsi gramatikal, diantaranya adalah jenis berikut:
·
Jika bentuk dasarnya
berupa nomina dan adjektiva, afiks se- membentuk adverb, seperti mereka sudah
tinggal serumah, anak itu cerdas, secerdas ayahnya.
·
Jika bentuk dasarnya
adverb, maka afik se- berfungsi membentuk konjungsi. Seperti sebelum masuk ruangan, dia mengetuk
pintu terlebih dahulu, tamu itu masuk selagi
kami belajar. Afiks se- memiliki lima
makna gramatikal yaitu:
1.
Makna ‘satu’ seperti,
·
Sehari :
‘satu hari’
·
Secangkir :
‘satu cangkir’
2.
Makna ‘seluruh’ seperti,
·
Sekota :
‘seluruh kota’
·
Sejagat :
‘seluruh jagat’
3.
Makna ‘dengan’ sangat
tidak produktif karena hanya terkandung dalam kata secara ‘dengan cara’.
4.
Makna ‘sama atau
seperti’ contoh,
·
Segunung : ‘sama
atau seperti gunung’
·
Setinggi :
‘sama tinggi’
5.
Makna ‘dalam keadaan
plaing’ seperti,
·
Secepat mungkin : ‘dalam keadaan paling cepat’
·
Sebagus mungkin : ‘dalam keadaan bagus’
·
Sebanyak mungkin : ‘dalam keadaan paling banyak’
2.
Sufiks dan Gabungannya
a.
Afiks –kan dan meN-kan
Afiks –kan
hanya menduduki satu jenis fungsi, yakni bisa berupa verba, nomina, dan
adjektiva. Jika afiks –kan
berkombinasi dengan afiks meN-,
fungsi afiks kombinasi tersebut adalah membentuk kata. Contoh afiks sufiks –kan dengan bentuk dasar verba:
Makna gramatikal afiks kan- tersebut adalah makna ’jadikan dan lakukan’ dalam konteks
kalimat makna perintah, ajakan, saran, permohonan, dll. contoh:
·
Dengarkan perintah ini
baik-baik
·
Kerjakan tugas itu
sekarang
Sedangkan makna afiks kombinasi meN-kan dan meN-per-kan ada beberepa macam yakni:
1.
Makna kausatif, yakni
makna ‘mengakibatkan...’, ‘menjadikan,,,’, ‘membawa,,,’. Contoh:
·
Menjatuhkan : ‘mengakibatkan....jatuh’
·
Melarikan :
‘membawa lari...’
2.
Makna benefaktif atau
makna ‘perbuatan untuk orang lain’. Contoh: membelikan,
membuatkan, membacakan.
b.
Afiks –i dan meN-i
Seperti halnya dengan afiks –kan, afiks –i sering hadir dalam bentukan kata bersama-sama afiks lain.
Seperti bersama afiks meN- dan di-. Misalnya memungkiri dan dikehendaki.
Kehadiran dua afiks tersebut tidak stimulan atau tidak secara bersama. Sebab, meN-i dan di-i tidak tergolong konfiks.
Afiks –i
tidak berfungsi membentuk kata. Afiks ini hanya membentuk pokok kata dari
bentuk dasar nomina. Misalnya dasari,
gambari, hujani. Dari bentuk dasar adjektiva. Misalnya marahi, sakiti, panasi, dan kata pokok itu sendri. Misalnya ajari, jalani, lempari. Afiks kombinasi
tersebut memiliki makna yang bermacam-macam, seperti:
1.
Makna ‘kuantitatif’
yakni makna ‘tindakan yang disebutkan dalam benruk dasar itu dilakukan secran
berulang-ulang. Contoh:
·
Melempari :
’melempar secara berulang-ulang’
·
Memukuli :
‘memukul secara berulang-ulang’
2.
Makna memberikan apa
yang disebutkan dalam bentuk dasar terhdap objeknya’. Contoh:
·
Menggulai :
‘memberikan gula terhadap...’
·
Mengarami :
’memberikan garam terhadap...’
3.
Menjadikan objek
mengadung makna ‘tempat’. Contoh:
·
Mereka mendatangi tempat itu. (‘datang di...’)
·
Pengawas ujian menduduki kursi kelas (‘duduk di’)
4.
Makna ‘kausatif’ atau makan
‘menjadikan sesuatu itu seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’. contoh:
·
Menghindari (kecelakaan) :
’menjadikan terhindar ari kecelakaan’
·
Menjahui (temannya) :
’menjadikan dia jauh dari temannya’
c.
Afiks –an
Afiks –an bisa melekat pada
macam-macam jenis kata. Bisa melekat pada kata kerja seperti makanan, bulanan, mingguan. Semua
bentukan kata berafiks –an tergolong
nomina. Fungsi afiks -an hanyalah
satu, yakni membentuk nomina dari pokok kata, dari verba, dan dari nomina itu
sendri. Makna afiks dapat digolongkan sebagai berikut:
1.
Makan ‘tiap-tiap’.
Contoh:
·
Harian : ‘setiap hari’
·
Mingguan :
‘setiap minggu’
2.
Makna ‘dalam ukuran’.
Contoh:
·
Kiloan : ‘dalam ukuran satu kilo’
·
Lusinan :
‘dalam ukuran satu lusin’
3.
Makna ‘waktu dalam
beberapa..’ contoh:
·
(bisa) mingguan (di
sana) : ‘dalam waktu beberapa minggu’
·
(bisa) bulanan (di sana) : ‘dalam waktu beberpa bulan’
d.
Afiks –wan dan –man
Afiks –wan
yang penggunaanya cukup produktif, lazimnya melekat pada bentuk dasar nomina.
Misalnya olahragawan, ilmuwan, budayawan.
Afiks ini juga bisa melekat pada kata lain seperti adjektiva. Misalnya cendikiawan, sukarelawan. Jadi fungsi
afiks –wan, dengan hasil bentukan
yang sangat terbatas, hanya membentuk nomina dan adjektiva karena pada umumnya
afiks –wan melekat pada nomina dan
menghaslkan bentukan nomina juga.
Afiks –man
termasuk afiks yang tidak produktif, kemampuan melekatnya sangat terbatas,
yakni hanya terhadap dua buah nomina,
yaitu pada seni dan budi, yang menghasilkan bentukan seniman dan budiman yang kedua-duanya tetap nomina. Dengan begitu afiks –man ini, selain tidak prouktif, juga
tida menduduki fungsi. Makna afiks –wan
ada dua macam, yaitu:
1.
Menyatakan ‘orang yang
ahli atau oarang yang bergerak dalam hala yang disebutkan bentuk dasarnya’.
contoh:
·
Ilmuwan :
‘orang yang ahli dalma bidang ilmu atau orang yang berilmu’
·
Budayawan : ‘orang yang ahli atau yang banyak bergerak dibidang kebudayaan’
2.
Menyatakan ‘orang yang
memiliki sifat seperti yang disebutkan dalam benruk dasarnya’. contoh:
·
Cendikiawan : ‘orang ayng cendikia’
·
Sukarelawan : ‘orang yang melakukan sesuatu dengan
sukarela’
·
3.
Konfiks
a.
Afiks ke-an
Afiks ke-an
terdiri dari beberapa jenis, yakni ke-an
yang berfungsi memebentuk nominadari adjektiva dan verba. Misalnya kelincahan, kepandaian, keadilan,
kedatangan, kematian, kemunculan. Dan ke-an
yang membentuk verba pasif, seperti kehujanan,
kedinginan, kelihatan. Selain itu ke-an
yang tidak menduduki fungsi karena bentuk dasarnya tergolong nomina dan hasil
pembentukannyan juga nomina. Contohnya, kerajaan,
kemanusiaan, kemahasiswaan. Ada tiga jenis makna afiks ke-an, yakni:
1.
Makan ‘hal yang bersifat
.... sesuai dengan makan bentuk dasarnya’. contoh
·
Kemajemukan :
‘hal majemuk’
·
Keadilan :
‘hal adil’
2.
Makna ‘dikenai atau menderita
sesuatu’. Contoh:
·
Ketakutan : ‘dikenai atau menderita
perasaan takut’
·
Kesakitan : ‘dikenai atau menderita
perasaan sakit’
3.
Makna ‘tempat atau
wilayah’. Contoh:
·
Kecamatan :
‘wilayah atau tempata camat bertugas’
·
Kelurahan :
’wilayah atau tempat lurah bertugas’
b.
Afiks pe-an
Afiks pe-an
hanya memiliki satu fungsi, yakni membentuk nomina dari pokok kata dan dari
adjektiva. Seperti, penulisan, pembacaan,
penjualan, pengefektifan, penghijauan. Makna afiks pe-an sebagai berikut:
·
Penjualan : ‘hal menjual’
·
Pemukiman :
‘hal memukimkan’
c.
Afiks per-an
Afiks per-an
membetuk nomina dari nomina, dari pokok kata, dan adjektifa. Dalam bentuk dasar
nomina, afiks per-an tidak mendukung
fungsi mengubah jenis atau golongan kata. Contoh: percontohan, perkotakan, perkebunan. Sedangkan afiks per-an yang melekat pada pokok kata.
Seprti, pertonotn, pertanian, pergaulan,
berfungsi membentuk nomina dari pokok kata. Begitupula, afiks per-an yang melekat pada adjektiva
berfungsi mengubah adjektiva menjadi nomina. Contohnya persengkokolan, persepakatan, persetujuan. Makna afiks per-an ada beberpa macam, yaitu:
1.
Makna ‘hal atau hal-hal
yang berhubungan dengan apa yang disebutkan bentuk dasarnya’. contoh:
·
Pergedungan : ‘hal-hal yang
berhubungan dengan gedung’
·
Peralatan :
‘hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat’
2.
Makna ‘hal ber...atau
hal memper-... seperti yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’ contoh:
·
Persahabatan : ‘hal besahabat’
·
Perselisihan : ‘hal berselisih’
3.
Makna ‘tempat’ atau
‘daera’. Contoh:
·
Perkampungan
·
Perkotaan
d.
Afiks ber-an
Sebagai konfiks, afiks ber-an hanya mendukung satu fungsi, yakni membentuk verba dari
pokok kata. Bentuk dasar yang dilekatinya pada umumnya berupa pokok kata.
Misalnya bergantian, berloncatan,
bertatapan. Namun bisa juga berupa verba penuh. Seperti berdatangan, bermunculan dan berjatuhan.
Dalam penggunaanya konfiks ber-an ini
kadang-kadang berkombinasi dengan perulangan. Seperti berpandang-pandangan, berkejar-kejaran, berpukul-pukulan. makna
konfiks ber-an ada bebrapa jenis, yaitu:
1.
Makna ‘pelaku tindaknya
lebih dari satu’. Contoh:
·
Berdatangan : ‘orang-orang pada
datang’
·
Berlarian : ‘orang-orang atau
beberapa binatang pada lari’
2.
Makna ‘salaing melakukan
tindakan’. Contoh:
·
Berpandang-pandangan : ‘salaing memandang’
·
Bercubit-cubitan : ‘saling
mencubit’
3.
Makna ‘tindakan yang
berulang-ulang’. Contoh:
·
Berloncat-loncatan : ‘meloncat secara
berulang-ulang’
·
Berlari-larian : ‘berlari secara
berulang ke sana kemari’
e.
Afiks se-nya
Seperti konfiks ber-an, konfiks se-nya
bisa hadir mandiri dan lazimpula hadir secara simultan dengan perulngan.
Seperti sebaiknya, sepantasnya,
sebenarnya. Fungsi konfoks se-nya
hanya ada satu fungsi, yakni membetuk adverbia dari adjektiva. Makna konfiks se-nya ada dua jenis yaitu:
1.
Makna ‘dalam keadaan
seperti yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’. contoh:
·
Sebaiknya :
‘dalam keadaan baik’
·
Sepantasnya :
‘dalam keadaan pantas’
2.
Makna ‘dalam keadaan
yang paling baik atau yang superlatif, seperti yang disebutkan bentuk dasarnya.
contoh:
·
Sebaik-baiknya :
‘dalam keadaan yang paling baik’
·
Sekuat-kuatnya :
‘dalam keadaan yang paling kuat’
v Morfofonemik
a.
Pengertian morfofonemik
Morfofonemik adalah
kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi
atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi baik
proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi (Chaer, 2015:43).
Morfofonemik adalah
mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan
morfem dengan morfem lain(Ramlan, 1983:73).
morfofonemik atau morfofonologi adalah studi tentang
berbagai wujud atau realisasi dari sebuah morfem akibat pertemuan morfem
tersebut dengan morfem lain (mulyono, 2013:83).
b.
Macam-macam proses morfofonemik
Dalam bidang afiksasi
bahasa indonesia ada empat macam gejala proses morfofonemik, yakni gejala
penambahan fonem, pergantian dan peluluhan fonem, perubahan fonem, pergeseran
fonem.
1. Penambahan fonem
Terjadi akibat pertemuan
morfem ke-an, peN-an, dan –an dengan bentuk dasar yang berakhir dengan bunyi
vokal dan bunyi diftong ai, au, oi, ei dan pertemuan morfem meN-, peN-, dan
peN-an dengan kata-kata yang hanya terdiri satu suku kata. Fonem yang
ditambahkan adalah fonem /y/.
Misalnya :
Ke-an + pulau =
kepulauan /kepulauwan/
peN-an + sampai =
penyampaian /penyampaiyan/
per-an + damai = perdamaian
/perdamaiyan/
-an + hari = harian
/hariyan/
2. Peluluhan fonem (asimilasi)
Peluluhan fonem terjadi
dalam afiksasi prefiks meN-, peN-, dan peN-an. Bunyi awal dari bentuk dasar
karena kesejenisan konsonan dengan bunyi akhir dari prefiks luluh kedalam bunyi
akhir prefiks tersebut, yakni bunyi nasal
(N).
Misalnya :
meN- + sapu = menyapu
meN- + serah = menyerahkan
meN- + tulis = menulis
3. Penghilangan fonem
Bunyi /N/ atau bunyi nasal
dalam prefiks meN-, peN-, dan peN-an hilang jika prefiks ini melekat pada
bentuk dasar tertentu misalnya pada bentuk dasar yang diawali dengan /m/ , /r/,
/l/.
Misalnya:
meN- + makan = memakan
peN- + lerai = peleraian
peN-an + mungkir =
pemungkiran
4. Perubahan fonem
Fonem /r/ pada prefiks
ber-, per-, dan per-an berubah menjadi /l/ pada saat prefiks-prefiks tersebut
melekat pada bentuk dasar ajar. Hasil
pendekatan tersebut adalah belajar,
pelajar, pelajaran. Dengan demikian prefiks-prefiks tersebut berbentuk
bel-, pel-, dan pel-an. Proses perubahan fonem ini bisa disebut proses
disimilasi karena kesamaan bunyi /r/ dalam berajar, perajar, dan perajaran berubah
menjadi bunyi yang tidak sama, yakni bunyi /l/.
5. Pergeseran fonem
Perubahan fonem dari
anggota betuk dasar menjadi anggota
afiks, persisnya menjadi anggota sufiks-an, -i, dan atau anggota konfiks
peN-an, per-an, ke-an, dan ber-an dalam pengucapan bentuk hasil afiksasinya.
Jadi, perpindahan ini terjadi antar morfem dalam pengucapan.
Misalnya :
Minum + -an = mi-nu-man
Rekan + -an = re-ka-nan
Tanam + -i = ta-na-mi
peN-an + didik =
pen-di-di-kan
per-an + tarung =
per-ta-ru-ngan
ke-an + indah = ke-in-da-han
ber-an + tebar =
ber-te-ba-ran
c.
Kaidah morfofonemik
Tidak semua afiks perlu
dibicarakan kaidah morfofonemiknya. Dalam subab ini dibicarakan kaidah
morfofonemik afiks meN-, ber-, per-, ter-, dan peN-.
1. Kaidah morfofonemik afiks meN-
Afiks meN- memiliki enam
alomorf atau enam bentuk, yakni me-, men-, mem-, meny-, meng, dan menge- dengan
kaidah morfofonemik sebagai berikut.
meN- → me : jika bentuk dasar yang dilekatinya
diawali dengan fonem konsonan /y, r, l, m, n, ny/.
Misalnya : meN- + yakini =
meyakini
meN + rusak = merusak
meN- → men- : jika bentuk dasar yang dilekatinya
diawali dengan fonem konsonan /d, t, s/.
Misalnya :
meN- + darat = mendarat
meN- + sukses = mensukseskan (boleh
menyukseskan)
meN- + survei
= mensurvei (menyurvei)
meN- → mem- : jika bentuk dasar yang dilekatinya diawali
dengan fonem konsonan /p, b, f/
misalnya :
meN- + paksa = memaksa
meN- + bawa = membawa
meN- + fitnah = memfitnah
meN- → meny- : jika melekat pada bentuk dasar yang diawali
dengan fonem konsonan /s, c, j/.
Misalnya :
meN- + sucikan = menyucikan
meN- + cari =mencuci /menycuci/
meN- + jawab = menjawab /menjawab/
meN→ meng -:jika melekat pada bentuk dasar yang fonem
awalnya adalah fonem kosonan/k,h,g,kh.
Misalnya :
meN -+ kutip=mengutip
meN-+ hitam =menghitam
meN→menge-:jika bentuk
dasarnya terdiri atas suku kata.
2. Kaidah morfofonemik afiks ber-
Afiks ber- memiliki tiga
almorf atau tiga bentuk yakni, be-,bel, dan ber- dengan kaidah morfofonemik
sebagai berikut.
Ber→be-: jika suku pertama bentuk dasarnya diawali dengan
fonem /r/ dan, atau di akhiti bunyi /-er/
Misalnya :
Ber-+ rupa = berupa
Ber-+ rongga = berongga
Ber-+ kerja = bekerja
Bel - → bel- : jika bentuk
dasar berupa bentuk ajar dan ajarkan seperti berikut
Ber- + ajar = belajar
Ber- + ajarkan = belajarkan
Ber- → ber : jika bentuk dasarnya tidak diawali dengan
fonem /r/ atau suku pertama benuk
dasarnya tidak berbunyi /er/ atau bentuk
dasarnya bukan morfen ajar.
Misalnya :
Ber- + angkat = berangkat
Ber- + anak =beranak
3. Kaidah morfofonemik afiks per -
Afiks per- memiliki tiga
alomorf atau bentuk afiks, yakni bentuk pe-,pel dan per dengan kaidah
morfofonemik sebagai berikut:
Per- + pe = jika melekat pada bentuk dasar yang diawali
dengan fonem dari /r/ atau suku yang pertamanya
berakhir dengan bunyi /er/
Misalnya
Per- +
rinci =
perinci
Per- + kerja = pekerja
Per- + pel = jika melekat pada bentuk dasar ajar seperti berikut
Per- + ajar = pelajar
Per- + per- : jika bentuk dasar yang dilekatinya tidak diawali dengan
bunyi /r/ atau bukan ajar.
Misalnya:
Per- + perkuat = perkuat
Per-+
mudah = permudah
4. Kaidah morfofonemik afiks ter-
Afiks ter- memiliki dua
alomorf atau dua bentuk, yakni te- ter-
dengan kaidah morfofonemik sebagai berikut
Ter → te : jika bentuk dasar dilekatinya diawali dengan
bunyi /r/ dan atau suku kata pertamanya
diakhiri dengan bunyi /er/
Misalnya :
ter- + rawat = terwat
ter- +
perdaya = terperdaya
ter → tel
: jika melekat pada bentuk anjur
ter- +
anjur = telanjur
5. Kaidah morfofonemik afiks peN-
Morfem afiks peN- dimiliki
enam alomorf yakni pe-, pen-, peny-, peng-, pem-, dan penge-, dengan kaidah morfofonemik sebagai berikut.
peN- → pe- : jika melekat pada bentuk dasar yang diawali
dengan fonem /m,l,r,w,y/.
Misalnya :
peN- + macet = pemacet
peN - + waris = pewaris
peN - → pen- : jika melekat
pada bentuk dasar yang diawali fonem /d,n,s,t/.
Misalnya:
PeN- +
dongkrak = pendongkrak
PeN -+
survei = pensurvei
6. Kaidah morfofonemik kata serapan
Dalam tata bahasa baku
bahasa indonesia ( 1998:112 -113 ) dikemukakan bahwa kaidah dasar
morfofonemiknya bergantung kepada kecocokan artikulasi saat pengucapannya.
Misalnya :
MeN-+ produksi =
memproduksi
MeN-+ Proses =
Memproses
Daftar Pustaka
Iyo Mulyono. (2013). Ilmu
Bahasa Indonesia Morfologi Teori dan Sejumput Probelmatika. Bandung: CV
Yrama Widya.
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa
Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk
Bahasa Indonesia, Kajian Ke Arah Tata Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi
Aksara




Tidak ada komentar:
Posting Komentar