Reduplikasi
Dalam bahasa indonesia reduplikasi merupakan mekanismen
yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi dan
akrominas. Lalu, meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi,
masalah pembentukan kata, tapi ada juga reduplikasi yang menyangkut masalah
redulpikasi, masalah sintaksis dan semantuk.
1.
Reduplikasi fonologi
Reduplikasi fonologi berlangsung terhadap dasar yang
bukan akar atau terhadap bentuk yang statusya lebih tinggi dari akar. Status
bentuk yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak
menghasilkan makna gramatikal, tapi menghasilkan makna leksikal. Contoh:
·
Kuku, dada, pipi, cincin, bentukan tersebut
adalah sebuah kayta yang bunyi kedua suku katanya sama.
·
Foya-foya, tubi-tubi, bentuk ini jelas
sebagai kata ulang, yang diulang secara utuh. Tapi, bentuk dasarnya tidak
sebagai akar mandiri.
·
Laba-laba, kupu-kupu, onde-onde, bentuk ini
juga jelas sebagai bentuk ulang dan dasar yang diulang. Tapi reduplikasinya
tidak menghasilakan makna gramatikal. Hasil reduplikasinya hanya menghasilkan
makana leksikal.
·
Mondar-mandir, luntang-lantung, bentuk ini
tidak jelas kata dasar pengulangannya. Maknanyapun hanya leksikal. Kata ulang
semacam ini disebut kata ulang leksikal.
2.
Reduplikasi Sintaktis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap
sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan bahasa yang satunya
lebih tinggi dari pada sebuah kata. Kridalaksana (1989) menyebutnya menhasilkan
sebuah “ualang kata”, bukan “kata ulang”. Contoh: jangan-jangan kau dekati pemuda itu. suamiku benar benar jantan.
3.
Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama
dari buah kata yang bersinonim. Misalnya ilmu
pengetahuan, alim ulama. Ilmu dan
pengetahuan memiliki makna yang sama, begitupun juga alim ulama.
4.
Reduplikasi Morfologis
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar
yang berupa akar, berupa bentuk berafiks dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya
dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi, dan pengulangan
sebagaian.
4.1 Pengulangan Akar
Bentuk dasar yang emrupakan akar memiliki tiga macam proses pengulangan,
yaitu pengulanagn utuh, pengulangan sebagian, pengulangan perubahan bunyi.
·
Pengulangan utuh, ialah
bentuk dasar itu diulang tanpa melakukan perubahan bentuk fisik dri akar itu.
Misalnya makan-makan (bentuk dasar makan) sungguh-sungguh (bentuk dasar sungguh).
·
Pengulangan sebagian,
ialah yang diulang dari bentuk dasar itu hanya salah satu suku katanya saja
disertai dengan “pelemahan” bunyi. Misalnya lelaki (bentuk dasr laki) tetangga (bentuk dasar tangga). Pengulangan sebagian ini bisa
diulang secara utuh tapi berbeda makna gramatikalnya. Misalnya lelaki =
laki-laki, tetangga = tangga-tangga.
·
Pengulangan dengan
perubahan bunyi ialah bentuk dasar itu diulang tetapi disertai dengan perubahan
bunyi. Bisa bunyi vokal ataupun konsonannya. Perubahan bunyi bisa menduduki
unsur pertama dan bisa juga menduduki unsur kedua. Contoh perubahan unsur yang
pertama, kelap-kelip, cora-coret.
Perubahan unsur yang kedua, ramah-tamah,
lauk-pauk.
·
Pengulangan dengan
infiks ialah sebuah akar yang diulang tetapi diberi infiks pada unsur
ulanganya. Contoh tururn-temurun,
tali-temali.
4.2 pengulangan Dasar
Berafiks
Perlu diperhatikan adanya tiga macam proses afiksasi dan reduplikasi.
Pertama, sebuah akar
diberi afiks dahulu, baru kemudian diulang atau direduplikasi. Misalnya: akar lihat mula-mula diberi afiks me- menjadi melihat, barulah di ulang menjadi melihat-lihat.
Kedua, sebuah akar
direduplikasikan dulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya: akar jalan diulang menjadi jalan-jalan baru kemudian diberi prefiks
ber- menjadi berjalan-jalan.
Ketiga, sebuah akar diberi
afiks dan diulang secara bersama. Misalnya: akar minggu diberi prefiks ber-
dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk bermiggu-minggu.
Proses dengan afiksasinya:
1.
Akar Berprefiks ber-
Ada dua macam
pengulangan akara yang berprefiks ber-
yaitu:
(a) Pada akar mula-mula diimbuhkan prefiks ber-, lalu dilakukan pengulangan
sebagian dan yang hanya diulang hanya akarnya saja. Contoh:
-
Berlari-lari (ber- +
lar)
-
Berjalan-jalan (ber- +
jalan)
-
Berputar-putar (ber- +
ptar)
(b) Pengulangan dilakukan serantak dengan pengimbuhan prefiks ber-. Contoh:
-
Berhari-hari
-
Berkarung-karung
2.
Akar Berkonfiks ber-an
Akar berkonfiks ber-an seperti pada kata berlarian dari
pekerjaan direduplikasi sebagian, yaitu hanya akrnya saja. Contoh:
-
Berlari-larian (dari
berlarian)
-
Berpeluk-pelukan (dari
berpelukan)
-
Bersenggol-sengolan
(dari bersenggolan)
3.
Akar Berprefiks me-
Akar berprefiks me-
direduplikasikan hanya akarnya saja. Tetapi, ada dua cara yaitu:
Pertama, yang bersifat progresif artinya pengulangan
kearah depan atau kearah kanan. Misanya:
-
Menembak-nembak (dasar
menembak)
-
Menari-nari (menari)
Kedua, yang bersifat regresif, artinya pengualangan ke arah belakang atau
kiri. Misalnya:
-
tembak-menembak
-
pukul-memukul
-
tari menari
ada juga pemberian prefiks me-
yang dilakukan sekaligus dengan proses reduplikasi. Misalnya:
-
mengada-ada
-
mengagak-agak
4.
Akara Berklofiks me-kan
Akar berklofiks me-kan direduplikasikan
hanya akarnya saja. Misalnya:
-
Membeda-bedakan (membedakan)
-
Membesar-besarkan
(membesarkan)
-
Melebih-lebihkan
(melebihkan)
5.
Akar Berprefiks me-i
Akar berprefiks me-i
direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-
Menuli-nulis (dari
menulisi)
-
Mengurang-ngurangi (dari
melempari)
-
Melempar-lempari (dari
lempari)
6.
Akar Berprefiks pe-
Akar berprefiks pe-
direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-
Pemuda-pemuda
-
Pembina-pembina
-
Pelajar-pelajar
Pengulangan berprefiks pe- jarang dilakukan. Lebih sering untuk menyatakan jumlah ini
dilakukan dengan memberi adverbia para. Kiranya kontruksi dengan menggunkan
adverbia para lebih bai dari pada mengulang bentuk prefiks pe- itu.
7.
Akar Berkonfiks pe-an
Akar berkonfiks pe-an direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-
Pembangunan-pembangunan
-
Pelatihan-pelatihan
Bentuk-bentuk reduplikasi itu boleh saja digunakan,
tetapi lebih baik menggunakan adverbia semua, seluruh, dan sejumlah bila ingin
menyatakan plural. Misalnya:
-
Semua pembangunan
-
Beberapa pelatihan
8.
Akar Berkonfiks per-an
Akar berkonfiks per-an direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-
Peraturan-peraturan
-
Perindustrian-Perindustrian
-
Perdebatan-perdebatan
Bentuk-bentu reduplikasi itu boleh saja digunakan, tetapi
tampaknya penggunaan adverbia semua, seluruh, sebagian, dan sebagainyya lebih
baik dari pada penggunaa bentuk reduplikasinya. Misalnya:
-
Semua peraturan
-
Beberapa perindustrian
-
Banyak perdebatan
9.
Akar Bersufiks –an
Akar bersufiks –an memiliki dua cara reduplikasiannya.
Pertama, dengan mengulang secara utuh bentuk bersufiks –an itu. misalnya:
-
Latihan-latihan
-
Lampiran-lampiran
-
Tulisan-tulisan
kedua, mengulang akarnya saja yang sekaligus disertai dengan
pengulangannya. Misalnya:
-
Obat-obatan
-
Biji-bijian
-
Kucing-kucingan
Selain dua cara itu masih ada cara yang kurang produktif, yakni dengan
mengulang sebagian (hanya satu suku pertama dari akar). Misalnya:
-
Pepohonan
-
Rerumputan
-
Teruntuhan
10. Afiks Berprefiks se-
Akar berprefiks se- ada dua macam
cara reduplikasinya.
Pertama, diulang secara utuh. Misalnya:
-
Sedikit-sedikt
-
Seorang-seorang
-
Sekepal-sekepal
Kedua, hanya mengulang bentuk akarnya saja. Misalnya:
-
Sekali-kali
-
Sebaik-baik
-
Sejauh-jauh
11. Akar Berprefiks ter-
Akar berprefiks ter- direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-
terbawa-bawa
-
tersedu-sedu
-
tertawa-tawa
12. Afiks Berprefiks se-nya
akar berkonfiks se-nya direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-
secepat-cepatnya
-
sebaik-baiknya
-
sedapat-dapatnya
13. Afiks Berprefiks ke-an
Akara berprefiks ke-an direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-
Kemerah-merahan
-
Keputih-putihan
-
Kekuning-kuningan
14. Afiks Berinfiks (-em-, -el-, -er-, -m-)
Akar berinfiks direduplikasikan sekaligus dalam pengimbuhan infiks dan
proses reduplikasi. Proses ini ta,paknya tidak produktif. Misalnya:
-
Tali-temali
-
Getar-geletar
-
Sambung-sinambung
5.
Reduplikasi Kompositum
Kompositum, gabubungan kata, kata majemuk, secara umum dapat dibedakan
atas,
a.
Yang kedua unsurnya
sederajat. Seperti, tua muda, ayam itik,
dan tikar bantal.
b.
Yang kedua unsurnya
tidak sederajat. Seperti rumah sakit,
surat kabar, dan keras kepala.
Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap (a) kompositum
yang kedua unsurnya sederajat, dan (b) kompisitum yang kedua unsurnya tidak
sederajat tetapi memiliki makna ideomatikal. Berikut contoh reduplikasi secara
utuh yang kedua unsurnya membentuk satu kesatuan makna:
-
Tua muda-tua muda
-
Buah bibir-buah bibir
Reduplikasi sebagian dilakukan terhadap kompositum yang
kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna idiomatikal. Contoh:
-
Surat-surat kabar
-
Rumah-rumah sakit
-
Buku-buku agama
Dari contoh di atas kedua unsurnya membangun makna gramatikal. Dalam hal
ini ada tiga catatan yang harud diperhatikan.
Pertama, dalam tata bahsa
tradisoanal gabungan kata (entah apa maknanya) harus direduplikasikan secara
utuh karena dianggap sebagai sebuah kata.
Kedua, gabungan kata yang
kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna ideomatikal, boleh saja
direduplikasikan sebagaian karena ada kaidah yang membolehkan hanya sebagian.
Ketiga, bentu-bentuk
kompositum tidak perlu direduplikasikan, kalau hanya bertujuan mendapatkan
makna plural.lebih baik digunakan adverbia yang menyatakan plural. Seperti,
semua, banyak, beberapa, sejumlah, dll. Contoh:
-
Banyak rumah sakit
-
Beberapa surat kabar
-
Semua jamaah haji
Selaian di atas masih ada satu macam reduplikasi yang
tidak produktif, tetapi lazim dibicarakan orang. Reduplikasi itu di lakukan
secara tiga kali yang di sertai perubahan bunyi. Misalnya:
-
Dar-der-dor
-
Dag-dig-dug
-
Ngak-ngik-ngok
Reduplikasi ini lazi disebut dengan istilah trilangga.
6.
Reduplikasi Dasar Nomina
Secara morfologis nomina dapat membentuk akar, bentuk
berprefiks pe-, bentuk berprefiks ke-, bentuk berkonfiks pe-an, bentuk berkonfiks per-an, bentuk berkonfiks ke-an, bentuk bersufik –an dan berupa gabungan kata. Dasar
nomina bila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal yang
menyatakan:
-
Banyak
-
Banyak dan
bermacam-macam
-
Banyak dengan ukuran
tertentu
-
Menyerupai atau seperti
-
Saat atau waktu
a) Nomina dapat membentuk akar, bentuk berprefiks pe-, bentuk berprefiks ke-,
bentuk berkonfiks pe-an, bentuk
berkonfiks per-an, bentuk berkonfiks ke-an, bentuk bersufik –an dan berupa gabungan kata, apabila
direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal “banyak” jika memiliki komponen
makna(+terhitung). Contoh:
-
Kami tidak takut dengan
ancaman-ancaman itu.
-
Peraturan-peraturan
daerah itu harus ditinjau lagi.
-
Pemda akan menggusur
rumah-rumah itu tanpa IMB.
Bentuk dasar nomina yang berafiks atau yang berupa
gabungan kata bila ingin ditampilakn makna ‘banyak’ sebaiknya tidak menggunakan bentuk
reduplikasi, lebih baik menggunakan bentuk adverbia seperti, semua, beberapa,
sejumlah, sebanyak, para, jadi bukan bukan lagi perturan-peraturan melainkan
semua peratuaran, dsb.
b) Dasar nomina, khususnya dakam bentuk akar bila direduplikasikan akan
memiliki
makna gramatikal ‘banyak dan bermacam-macam’ apbila memiliki komponen makna
(+ berjenis). Dilakukan dengan pengulangan sufiks –an. Misalnya:
-
Dulu di pasar minggu
banyak buah-buahan
-
Kedelai termasuk tanaman
kacang-kacangan
c)
Dasar nomina, khususnya
dalam bentuk dasar, bila direduplikasikan akan memiliki
makna gramatikal ‘banyak dengan satuan ukurang tertentu’ apabila memiliki
komponen makna (+ukuran) atau (+takaran). Pengulangan ini dilakukan dengan
pengulangan prefiks ber-. Misalnya:
-
Kami sudah berhari-hari
belum makan.
-
Berhektar-hektar hutan
di kalimantan terbakara hangus
d) Dasar nomina, khususnya dalam bentuk akar, bila direduplikasikan akan
memiliki
makna gramatikal ‘menyerupai’ atau ‘seperti’ apabila memiliki komponen
mekna (+bentuk tertentu) atau(+sifat tertentu). Dilakukan dengan perulangan
sufiks –an. Misalnya:
-
Adik menangis minta
dibelikan mobil-mobilan.
-
Anak laki-laki suka
benrmain perang-perangan.
Ada sejumlah bentuk reduplikasi nomina benrmakna ‘menyeruoai’ atau’seperti’
dalam bentuk utuh. Misalnya:
-
Sebelum dipukul dia
sudah memasang kuda-kuda
-
Langit-langit rumah
perumnas terlalu rendah
e) Dasar nomina khususnya dakam bentuk akar, bila direduplikasikan akan
memiliki makna gramatikal ‘saat’ atau ‘waktu’, apabila memiliki komponen makna
(+ saat). Dilakukan dengan perulangan utuh. Misalnya:
-
Pagi-pagi sekali dia
sudah bernagkat kerja
-
Malam-malam begini
mengapa datang ke sini?
7.
Reduplikasi Dasar Verba
Secara morfologis verba dapat berbentuk akar, berprefiks ber-, berkonfiks ber-an, berprefiks me-
inflektif dan derivatif, berprefiks di-
derivatif, berprefiks ter- inflektif
dan derivatif, berkonfiks me-i
inflektif, berklofiks di-i inflektif,
berklofiks ter-i inflektif,
berprefiks ter- inflektif dan
derivatif, berprefiks ke- dan
berkonfiks ke-an. Reduplikasi itu
tergantung komponen makna yang dimiliki oleh kata yang menjadi kata dasar itu.
Makna gramatikal yang
dapat dihasilkan dalam proses reduplikasi terhadap dasar verba antara lain:
·
Kejadian berulang kali.
Memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-durasi)
Contoh:
-
dari tadi beliau
marah-marah terus
-
jangan menembak-nembak
semabarang
·
Kejadian berintensitas
Contoh:
-
Kami berjalan-jalan
mengelilingi kebun raya bogor
-
Mereke berlari-lari di
halaman sekolah
·
Kejadian berbalasan
Contoh:
-
Terjadi tembak menembak
antara grilyawan palestina dan tentara israel
-
Kita tidak boleh
salah-menyalahkan terlebih dulu.
·
Dilakukan tanpa tujuan
(dasar)
Contoh:
-
Mari kita duduk di taman
depan
-
Ayo kita jalan-jalan
sebentar
·
Hal tindakan
Contoh:
-
Menerima pekerjaan
ketik-mengetik
-
Dalam soal tari menari
dia memang ahlinya
·
Begitu (dasar)
Contoh:
-
Saya tdak sadar,
tahu-tahu dia sudah berada di depanku
-
Rupanya dia lapar
sekali, pulang-pulang minta makan
8.
Reduplikasi Adjektiva
Adjektiva sebagai brntuk dasar dalam proses reduplikasi
dapat berupa akar seperti merah dan tinggi. Dapat berupa akata turunan
seperti kemerahan dan kehijauan, dan dapat berupa kata gabung
seperti merah darah dan kuning telur. Yang lazim direduplikasikan
adalah akar.
Reduplikasi pada dasar
adjektiva dapat menghasilkan makna gramatikal, jika memiliki komponen makna
(+keadaan) dan (+ukuran). Contohnya:
·
Banya yang (dasar)
Contoh:
-
Ikannya masih
kecil-kecil, jangan ditangkap dulu
-
Rumah-rumah di daerah
situ bagus-bagus
·
Se (dasar) mungkin
Contoh:
-
Bukalah jendela
lebar-lebar
-
Dengarkan baik-baik
nasehat guru
Tampak makna gramatikal
‘se (dasar) mungkin’ dapatlah digunakna
dalam kalimat imperatif (perintah)
·
Hanya yang (dasar)
Contoh:
-
Ambil yang baik-baik,
tinggalkan yang buruk-buruk
-
Kumpulkan buah itu, yang
besar-besar saja
Makna gramatikal ini
dapat digunakan dalam kalimat impertif dan menyatakan pilihan.
·
Sedikit bersifat (dasar)
Contoh:
-
Dari jauh warna air laut
tampak kebiru-biruan
-
Warna bajunya putih
kehijau-hujauan
·
Meskipun (dasar)
Contoh:
-
Jauh0jauh saya datang,
tapi orangnya tidak ada
-
Kecil-kecil berani dia
melawan preman
·
Semua (dasar) dengan
Contoh:
-
Nyamuk itu segede-gede
lalat hijau
-
Daunya selebar-lebar
telinga gajah
·
Intensitas
Contoh:
-
Kamu jangan
membesar-besarkan masalah yang spele ini.
-
Janganlah kamu
melemah-lemahkan semangat dia.
9.
Reduplikasi Dasar Kelas Tertutup
Katakelas tertutup adalah kata-kata yang keanggotaannya
sukar bertambah atau berkurang, dan julmalah keanggotaanya relatif terbatas.
Yang termasuk kelas tertutup adalah kata-kata yang tersuk dalam adverbia,
pronomina, numerlia, artikulus, interjeksi. Kelas tertutup ini pun ada yang
mengalami reduplikasi, tapi makna dari proses tersebut sukar dikaidahkan. Sebab
jumlahnya terbatas, maka di jelaskan sebagai berikut,
9.1. reduplikasi Dasar Adverbia Negasi
Kosakata adverbia negasi adalah bukan,tidak, tak, dan tiada. Yang terlibat dalam proses reduplikasi
hanyalah bukan dan tidak. Contoh:
-
Di sini kamu jangan
bicara yang bukan-bukan
-
Anak itu selalu menangis
meminta yang tidak-tidak
Reduplikasi tersebut mempunyai distribusi yang sama atau
dapat dipertukarkan. Tanpa reduplikasi negasi bukan berkaitang dengan nomina,
sedangkan negasi tidak berkaitan dengan adjektifa dan verba.
9.2. reduplikasi Dasar Adverbia Larangan
Kosakata adverbia larangan adalah jangan dan tidak boleh,
yang berkenaan dengan rediplikasi hanyalah akar jangan sperti,
-
Hari ini dia tidakmasuk
sekolah, kemarin juga tidak masuk, jangan-jangan dia sakit,
-
Mari kita segera pulang,
jangan-jangan ayah sudah di rumah.
Dari contoh di atas bentuk redupliksi janga-jangan tidak lagi berkenaan dengan
“laranga”, melainkan telah berubah menjadi konjungsi intraklimat yang
menyatakan hubungan antara klausa dengan makna menghubungkan dan rasa
khaswatir.
9.3. reduplikasi Dasar Adverbia Kala
Kosakata adverbia kala adalah kata-kata sudah dan telah untuk menyatakan kala lampau, sedang, tengah, dan lagi untuk menyatakan bahwa kini, akan dan mau untuk menyatakan kala yang akan datang. Contohnya:
-
Kalau mengingat yang
sudah-sudah kami memang kasihan padanya
-
Kerjanya hanya
megumpulkan harta seakan-akan dia bisa hidup selamanya.
Bentuk (yang) sudah-sudah pada kalimat (1) memiliki makna
‘segala peristiwa atau kejadian yang pernah dialami’ sedangakan seakan-akan
pada kalimat (2) sama dengan ‘seolah-olah’.
Sedang sebagai adverbia kala tidak mengalami proses
reduplikasi tetapi sebagai adverbia kualitatif bisa direduplikasikan. Contoh:
-
Tidak usah yang terbaik,
cukup yang sedang-sedang saja
Tengah sebagai adverbia kala tidak mengalami proses
reduplikasi , tapi sebagai nomina tempat. Contoh: (di) tengah-tengah, sebagai numerlia tengah menjadi setengah-setengah.
Lagi, sebagai adverbia kala juga tidak mengalmi prose
reduplikasi, tetapi sebagai adverbia frekuensi dapat yaitu menjadi lagi-lagi.
Contoh:
-
Lagi-lagi saya yang
disuruh menjaga anak itu.
Mau, sebagai averbia kala juga tidak mengami proses
reduplikasi, tetapi sebagai makna ‘ingin’ dapat direduplikasikan. Seperti
tampak dalam kalimat,
-
Jangan bekerja semau-maunya
saja.
9.4. reduplikasi Dasar Adverbia Keharusan
Kosakata adverbia keharusan adalah barangkali; kali, dan mungkin yang menyatakan kemungkinan; mesti, harus, dan wajib yang menyataka
keharusan; dan boleh yang menyatakan
kebolehan. Sebagai adverbia keharusan yang terlibat dalam reduplikasi hanyalah kali, mau dan boleh. Sepert:
-
Mari kita singgah ke
rumah beliau, kali-kali saja dia ada di rumah
-
Jangan bekerja
semau-maunya saja
-
Boleh-boleh saja kalau
anda mau mengajukan usul itu.
9.5. reduplikasi Dasar Adverbia Jumlah
Kosakata adverbia jumlah adalah banyak, sedikit, lebih, kurang, dan cukup. Semua terlibat dalam
proses reduplikasi. Contoh:
-
Setelah diberi gula
harus diberi air banyak-banyak (memiliki makna banya sehingga tidak kekurangan)
-
Beri dia minum
sedikit-sedikit (memiliki makna sedikit demi-sedikit)
-
Hawa disini sangat
dingin, lebih-lebih pada pagi hari ( makna menegaskan)
-
Sekurang-kuranya kami
bisa membantu sejuta ( makna paling kurang)
-
Kebutuhan mereka akan
kami penuhi secukup-cukupnya (makna secukupnya sampai tidak kekurangan).
9.6 Reduplikasi Dasar Adverbia Taraf
Kosakata adverbia taraf adalah agak, sangat, amat, sekali, sedang, kurang, dan paling. Yang
terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah agak
dan paling. Contoh:
-
Harus dihitung yang
benar, jangan mengagak-agak saja (makna mengira-ngira)
-
Harganya pling-paling
serubu rupiah ( makna yang paling mahal atau murah hanyalah)
Kata sangat, amat dan sekali sebenarnya sama dengan makna
paling. Namun tidak terlibat dalam proses reduplikasi. Begitupun juga kata
sedang dan kurang.
9.7. reduolikasi Dasar Adverbia Frekuensi
Kosakata frekuensi adalah sekali, jarang, sering dan lagi.
Contoh:
-
Sekali-kali dia datang
juga ke sini ( makna datang ‘tetapi tidak sering’)
-
Jangan sekali-kali kau
langgar peraturan (makna tidak sama sekali)
-
Beliau memang sudah
jarang-jarang kesini (datang ‘tetapi jarang’)
-
Sering-sering kau kemari
(makna jarang-jarang)
-
Lgi-lagi dia yang tidak
hadir (makna pengulangan)
9.8 Reduplikasi Adverbia Dasar Tanya
Koasakata adverbia tanya adalah apa, siapa, berapa, mana, kenapa, mengapa, dan bagaimana. Contoh:
-
Kalau ada apa-apa dengan
beliau, tolong baritahu kami (ada ‘kejadian’ apa saja)
-
Dia bukan siapa-siapa,
jadi jangan takut (makna ‘orang’ yang tidak ada kelebihannya)
-
Barangnya memang bagus,
dan beragam, tetapi berpa-berpa harganya saya tidak tahu (makna kepastian
barangnya)
-
Mana-mana yang tidak
diperlukan sebaiknya dibuang asaja (makna benda-benda atau hal-hal)
-
Semau kejadian di sana
sudah saya dengar, tetapi mengapa-mengapanya saya tidak tahu (makna ‘terjadi’
sesuatu)
9.9 Reduplikasi Dasar Pronomina Presona
Kosakata pronomina adalah saya dan aku sebagai
orang pertama tunggal, kami sebagai
orang pertama jamak eksklusif. Kita
sebagai orang pertama inklusif, kamu,
engkau, anda, sebagai orang kedua tunggal; kalian dan kamu sekalian
sebagai dan mereka-mereka sebagai
orang ketiga jamak. Contoh:
-
Kalau ada masalah
saya-saya juga yang dimintai tolong
-
Kami-kami ini sering
membantu pekerjaan beliau
-
Yang tidak setuju
ternyata mereke-mereka juga
Makna reduplikasi pada bentuk dasa pronomina persona
adalah menyatakan penegasan, bukan menyatakan makana jamak, sehingga penggunaan
kata kmi-kami, kita-kita dan mereka-mereka adalah berterima. Pemikiran bahwa
makna reduplikasi hanya menyatakan jamak. Padahal dalam hal ini bukan bermakna
jamak, melainkan bermakna penegasan.
9.10. Reduplikasi Dasar Pronomina Demonstratifa
Kosakata pronomina demonstratifa adalah ini, itu, begini, dan begitu. Contoh:
-
Mengapa yang ini-ini
saja yang kamu tuntut ( makna hanya ini)
-
Sejak dulu sampai
sekarang itu-itu saja yang dibicarakan (makna hannya itu)
-
Begini-begini saya ini
dulunya anak orang kaya (makna meskipun begitu)
-
Keadaan dari dulu smpai
sekarang begitu-begitu saja, tidak ada perubahan (hanya begitu)
9.11. Reduplikasi Dasar Konjungsi Koordinatif
Kosakata konjungsi adalah dan yang menyataka ‘gabungan’; serta menyatakan ‘kesertaan’; tetapi dan melainkan
menyatakan ‘kebalikan’; bahwa dan malah (an) yang menyatakan ‘penguatan’; kemudian, setelah, sesudah dan lalu
yang menyatakan ‘hubungan waktu’.
Semua tidak terlibat dalam proses reduplikasi.
9.12. Reduplikasi Dasar Numerlia
Kosakata numerlia adalah satu, dua, ............., seratu, seribu, setengah, seperempat dan
sebaginya. Contonh:
-
Anal-anak itu dibariskan
dua-dua
-
Mereka di beri uang
seratu-seratus
-
Obat itu dimakan
setengah-setengah saja
Tampaknya makna reduplikasi pada dasar bilangan adalah
sama.
9.13. Reduplikasi Dasar Konjungsi Subordinatif
Koasakata konjungsi subordinatif adalah karena, sebab, asal, lantaran yang
menghubungkan menyatakan ‘sebab’; kali,
jika, jikalau, andai, andaikan dan sebagianya yang menghubungkan menyatakan
‘persyaratan’; meski (pun), biar (pun),
walau (pun), kendati (pun) yang menghubungkan menyatakan ‘penguatan’; hingga, sehingga, dan sampai
menghubungkan menyatakan ‘batas’; kecuali,
yang menghubungkan menyatakan ‘perkecualian’. Namun yang terlibat dalam proses reduplikasi
hanya kalau, andai, dan sampai.
Contoh:
-
Mari kita ke kebun,
kalau-kalu ada durian jatuh (makna kemungkinan yang di harapkan memberi
keuntungan)
-
Kami Cuma
berandai-andai, tidak memikiran yang sebenarnya (makna melakukan andai-andai)
-
Dia menyamar sebagai
perempuan, samapai-sampai kita tidak dapat mengenalinya. (makna akibat dari
suatu perbuatan).
Daftar Pustaka
Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan
Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Garmedia.
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa
Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar