Rabu, 03 Januari 2018

Reduplikasi



Reduplikasi

Dalam bahasa indonesia reduplikasi merupakan mekanismen yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi dan akrominas. Lalu, meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tapi ada juga reduplikasi yang menyangkut masalah redulpikasi, masalah sintaksis dan semantuk.

1.     Reduplikasi fonologi
Reduplikasi fonologi berlangsung terhadap dasar yang bukan akar atau terhadap bentuk yang statusya lebih tinggi dari akar. Status bentuk yang diulang tidak jelas dan reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, tapi menghasilkan makna leksikal. Contoh:
·         Kuku, dada, pipi, cincin, bentukan tersebut adalah sebuah kayta yang bunyi kedua suku katanya sama.
·         Foya-foya, tubi-tubi, bentuk ini jelas sebagai kata ulang, yang diulang secara utuh. Tapi, bentuk dasarnya tidak sebagai akar mandiri.
·         Laba-laba, kupu-kupu, onde-onde, bentuk ini juga jelas sebagai bentuk ulang dan dasar yang diulang. Tapi reduplikasinya tidak menghasilakan makna gramatikal. Hasil reduplikasinya hanya menghasilkan makana leksikal.
·         Mondar-mandir, luntang-lantung, bentuk ini tidak jelas kata dasar pengulangannya. Maknanyapun hanya leksikal. Kata ulang semacam ini disebut kata ulang leksikal.

2.     Reduplikasi Sintaktis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan bahasa yang satunya lebih tinggi dari pada sebuah kata. Kridalaksana (1989) menyebutnya menhasilkan sebuah “ualang kata”, bukan “kata ulang”. Contoh: jangan-jangan kau dekati pemuda itu. suamiku benar benar jantan.

3.     Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama dari buah kata yang bersinonim. Misalnya ilmu pengetahuan, alim ulama. Ilmu dan pengetahuan memiliki makna yang sama, begitupun juga alim ulama.

4.     Reduplikasi Morfologis
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi, dan pengulangan sebagaian.

4.1  Pengulangan Akar
Bentuk dasar yang emrupakan akar memiliki tiga macam proses pengulangan, yaitu pengulanagn utuh, pengulangan sebagian, pengulangan perubahan bunyi.
·         Pengulangan utuh, ialah bentuk dasar itu diulang tanpa melakukan perubahan bentuk fisik dri akar itu. Misalnya makan-makan (bentuk dasar makan) sungguh-sungguh (bentuk dasar sungguh).
·         Pengulangan sebagian, ialah yang diulang dari bentuk dasar itu hanya salah satu suku katanya saja disertai dengan “pelemahan” bunyi. Misalnya lelaki (bentuk dasr laki) tetangga (bentuk dasar tangga). Pengulangan sebagian ini bisa diulang secara utuh tapi berbeda makna gramatikalnya. Misalnya lelaki = laki-laki, tetangga = tangga-tangga.
·         Pengulangan dengan perubahan bunyi ialah bentuk dasar itu diulang tetapi disertai dengan perubahan bunyi. Bisa bunyi vokal ataupun konsonannya. Perubahan bunyi bisa menduduki unsur pertama dan bisa juga menduduki unsur kedua. Contoh perubahan unsur yang pertama, kelap-kelip, cora-coret. Perubahan unsur yang kedua, ramah-tamah, lauk-pauk.
·         Pengulangan dengan infiks ialah sebuah akar yang diulang tetapi diberi infiks pada unsur ulanganya. Contoh tururn-temurun, tali-temali.

4.2 pengulangan Dasar Berafiks
Perlu diperhatikan adanya tiga macam proses afiksasi dan reduplikasi.
            Pertama, sebuah akar diberi afiks dahulu, baru kemudian diulang atau direduplikasi. Misalnya: akar lihat mula-mula diberi afiks me- menjadi melihat, barulah di ulang menjadi melihat-lihat.
            Kedua, sebuah akar direduplikasikan dulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya: akar jalan diulang menjadi jalan-jalan baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi berjalan-jalan.
            Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersama. Misalnya: akar minggu diberi prefiks ber- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk bermiggu-minggu.
Proses dengan afiksasinya:
1.      Akar Berprefiks ber-
Ada dua macam pengulangan akara yang berprefiks ber- yaitu:
(a)  Pada akar mula-mula diimbuhkan prefiks ber-, lalu dilakukan pengulangan sebagian dan yang hanya diulang hanya akarnya saja. Contoh:
-          Berlari-lari (ber- + lar)
-          Berjalan-jalan (ber- + jalan)
-          Berputar-putar (ber- + ptar)
(b)  Pengulangan dilakukan serantak dengan pengimbuhan prefiks ber-. Contoh:
-          Berhari-hari
-          Berkarung-karung
2.      Akar Berkonfiks ber-an
Akar berkonfiks ber-an seperti pada kata berlarian dari pekerjaan direduplikasi sebagian, yaitu hanya akrnya saja. Contoh:
-          Berlari-larian (dari berlarian)
-          Berpeluk-pelukan (dari berpelukan)
-          Bersenggol-sengolan (dari bersenggolan)

3.      Akar Berprefiks me-
Akar berprefiks me- direduplikasikan hanya akarnya saja. Tetapi, ada dua cara yaitu:
Pertama, yang bersifat progresif artinya pengulangan kearah depan atau kearah kanan. Misanya:
-          Menembak-nembak (dasar menembak)
-          Menari-nari (menari)
Kedua, yang bersifat regresif, artinya pengualangan ke arah belakang atau kiri. Misalnya:
-          tembak-menembak
-          pukul-memukul
-          tari menari
ada juga pemberian prefiks me- yang dilakukan sekaligus dengan proses reduplikasi. Misalnya:
-          mengada-ada
-          mengagak-agak

4.      Akara Berklofiks me-kan
Akar berklofiks me-kan direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-          Membeda-bedakan (membedakan)
-          Membesar-besarkan (membesarkan)
-          Melebih-lebihkan (melebihkan)

5.      Akar Berprefiks me-i
Akar berprefiks me-i direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-          Menuli-nulis (dari menulisi)
-          Mengurang-ngurangi (dari melempari)
-          Melempar-lempari (dari lempari)

6.      Akar Berprefiks pe-
Akar berprefiks pe- direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-          Pemuda-pemuda
-          Pembina-pembina
-          Pelajar-pelajar
Pengulangan berprefiks pe- jarang dilakukan. Lebih sering untuk menyatakan jumlah ini dilakukan dengan memberi adverbia para. Kiranya kontruksi dengan menggunkan adverbia para lebih bai dari pada mengulang bentuk prefiks pe- itu.

7.      Akar Berkonfiks pe-an
Akar berkonfiks pe-an direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-          Pembangunan-pembangunan
-          Pelatihan-pelatihan
Bentuk-bentuk reduplikasi itu boleh saja digunakan, tetapi lebih baik menggunakan adverbia semua, seluruh, dan sejumlah bila ingin menyatakan plural. Misalnya:
-          Semua pembangunan
-          Beberapa pelatihan

8.      Akar Berkonfiks per-an
Akar berkonfiks per-an direduplikasikan secara utuh. Misalnya:
-          Peraturan-peraturan
-          Perindustrian-Perindustrian
-          Perdebatan-perdebatan
Bentuk-bentu reduplikasi itu boleh saja digunakan, tetapi tampaknya penggunaan adverbia semua, seluruh, sebagian, dan sebagainyya lebih baik dari pada penggunaa bentuk reduplikasinya. Misalnya:
-          Semua peraturan
-          Beberapa perindustrian
-          Banyak perdebatan

9.      Akar Bersufiks –an
Akar bersufiks –an memiliki dua cara reduplikasiannya.
Pertama, dengan mengulang secara utuh bentuk bersufiks –an itu. misalnya:
-          Latihan-latihan
-          Lampiran-lampiran
-          Tulisan-tulisan
kedua, mengulang akarnya saja yang sekaligus disertai dengan pengulangannya. Misalnya:
-          Obat-obatan
-          Biji-bijian
-          Kucing-kucingan
Selain dua cara itu masih ada cara yang kurang produktif, yakni dengan mengulang sebagian (hanya satu suku pertama dari akar). Misalnya:
-          Pepohonan
-          Rerumputan
-          Teruntuhan
10.  Afiks Berprefiks se-
Akar berprefiks se- ada dua macam cara reduplikasinya.
Pertama, diulang secara utuh. Misalnya:
-          Sedikit-sedikt
-          Seorang-seorang
-          Sekepal-sekepal
Kedua, hanya mengulang bentuk akarnya saja. Misalnya:
-          Sekali-kali
-          Sebaik-baik
-          Sejauh-jauh

11.   Akar Berprefiks ter-
Akar berprefiks ter- direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-          terbawa-bawa
-          tersedu-sedu
-          tertawa-tawa

12.   Afiks Berprefiks se-nya
akar berkonfiks se-nya direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-          secepat-cepatnya
-          sebaik-baiknya
-          sedapat-dapatnya

13.   Afiks Berprefiks ke-an
Akara berprefiks ke-an direduplikasikan hanya akarnya saja. Misalnya:
-          Kemerah-merahan
-          Keputih-putihan
-          Kekuning-kuningan

14.  Afiks Berinfiks (-em-, -el-, -er-, -m-)
Akar berinfiks direduplikasikan sekaligus dalam pengimbuhan infiks dan proses reduplikasi. Proses ini ta,paknya tidak produktif. Misalnya:
-          Tali-temali
-          Getar-geletar
-          Sambung-sinambung
           
5.     Reduplikasi Kompositum
Kompositum, gabubungan kata, kata majemuk, secara umum dapat dibedakan atas,
a.       Yang kedua unsurnya sederajat. Seperti, tua muda, ayam itik, dan tikar bantal.
b.       Yang kedua unsurnya tidak sederajat. Seperti rumah sakit, surat kabar, dan keras kepala.
Reduplikasi secara utuh dilakukan terhadap (a) kompositum yang kedua unsurnya sederajat, dan (b) kompisitum yang kedua unsurnya tidak sederajat tetapi memiliki makna ideomatikal. Berikut contoh reduplikasi secara utuh yang kedua unsurnya membentuk satu kesatuan makna:
-          Tua muda-tua muda
-          Buah bibir-buah bibir
Reduplikasi sebagian dilakukan terhadap kompositum yang kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna idiomatikal. Contoh:
-          Surat-surat kabar
-          Rumah-rumah sakit
-          Buku-buku agama
Dari contoh di atas kedua unsurnya membangun makna gramatikal. Dalam hal ini ada tiga catatan yang harud diperhatikan.
            Pertama, dalam tata bahsa tradisoanal gabungan kata (entah apa maknanya) harus direduplikasikan secara utuh karena dianggap sebagai sebuah kata.
            Kedua, gabungan kata yang kedua unsurnya tidak sederajat dan tidak bermakna ideomatikal, boleh saja direduplikasikan sebagaian karena ada kaidah yang membolehkan hanya sebagian.
            Ketiga, bentu-bentuk kompositum tidak perlu direduplikasikan, kalau hanya bertujuan mendapatkan makna plural.lebih baik digunakan adverbia yang menyatakan plural. Seperti, semua, banyak, beberapa, sejumlah, dll. Contoh:
-          Banyak rumah sakit
-          Beberapa surat kabar
-          Semua jamaah haji
Selaian di atas masih ada satu macam reduplikasi yang tidak produktif, tetapi lazim dibicarakan orang. Reduplikasi itu di lakukan secara tiga kali yang di sertai perubahan bunyi. Misalnya:
-          Dar-der-dor
-          Dag-dig-dug
-          Ngak-ngik-ngok
Reduplikasi ini lazi disebut dengan istilah trilangga.

6.     Reduplikasi Dasar Nomina
Secara morfologis nomina dapat membentuk akar, bentuk berprefiks pe-, bentuk berprefiks ke-, bentuk berkonfiks pe-an, bentuk berkonfiks per-an, bentuk berkonfiks ke-an, bentuk bersufik –an dan berupa gabungan kata. Dasar nomina bila direduplikasikan akan menghasilkan makna gramatikal yang menyatakan:
-          Banyak
-          Banyak dan bermacam-macam
-          Banyak dengan ukuran tertentu
-          Menyerupai atau seperti
-          Saat atau waktu
a)     Nomina dapat membentuk akar, bentuk berprefiks pe-, bentuk berprefiks ke-,
bentuk berkonfiks pe-an, bentuk berkonfiks per-an, bentuk berkonfiks ke-an, bentuk bersufik –an dan berupa gabungan kata, apabila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal “banyak” jika memiliki komponen makna(+terhitung). Contoh:
-          Kami tidak takut dengan ancaman-ancaman itu.
-          Peraturan-peraturan daerah itu harus ditinjau lagi.
-          Pemda akan menggusur rumah-rumah itu tanpa IMB.
Bentuk dasar nomina yang berafiks atau yang berupa gabungan kata bila ingin ditampilakn makna ‘banyak’  sebaiknya tidak menggunakan bentuk reduplikasi, lebih baik menggunakan bentuk adverbia seperti, semua, beberapa, sejumlah, sebanyak, para, jadi bukan bukan lagi perturan-peraturan melainkan semua peratuaran, dsb.

b)     Dasar nomina, khususnya dakam bentuk akar bila direduplikasikan akan memiliki
makna gramatikal ‘banyak dan bermacam-macam’ apbila memiliki komponen makna (+ berjenis). Dilakukan dengan pengulangan sufiks –an. Misalnya:
-          Dulu di pasar minggu banyak buah-buahan
-          Kedelai termasuk tanaman kacang-kacangan

c)      Dasar nomina, khususnya dalam bentuk dasar, bila direduplikasikan akan memiliki
makna gramatikal ‘banyak dengan satuan ukurang tertentu’ apabila memiliki komponen makna (+ukuran) atau (+takaran). Pengulangan ini dilakukan dengan pengulangan prefiks ber-. Misalnya:
-          Kami sudah berhari-hari belum makan.
-          Berhektar-hektar hutan di kalimantan terbakara hangus

d)     Dasar nomina, khususnya dalam bentuk akar, bila direduplikasikan akan memiliki
makna gramatikal ‘menyerupai’ atau ‘seperti’ apabila memiliki komponen mekna (+bentuk tertentu) atau(+sifat tertentu). Dilakukan dengan perulangan sufiks –an. Misalnya:
-          Adik menangis minta dibelikan mobil-mobilan.
-          Anak laki-laki suka benrmain perang-perangan.
Ada sejumlah bentuk reduplikasi nomina benrmakna ‘menyeruoai’ atau’seperti’ dalam bentuk utuh. Misalnya:
-          Sebelum dipukul dia sudah memasang kuda-kuda
-          Langit-langit rumah perumnas terlalu rendah

e)     Dasar nomina khususnya dakam bentuk akar, bila direduplikasikan akan memiliki makna gramatikal ‘saat’ atau ‘waktu’, apabila memiliki komponen makna (+ saat). Dilakukan dengan perulangan utuh. Misalnya:
-          Pagi-pagi sekali dia sudah bernagkat kerja
-          Malam-malam begini mengapa datang ke sini?

7.     Reduplikasi Dasar Verba
Secara morfologis verba dapat berbentuk akar, berprefiks ber-, berkonfiks ber-an, berprefiks me- inflektif dan derivatif, berprefiks di- derivatif, berprefiks ter- inflektif dan derivatif, berkonfiks me-i inflektif, berklofiks di-i inflektif, berklofiks ter-i inflektif, berprefiks ter- inflektif dan derivatif, berprefiks ke- dan berkonfiks ke-an. Reduplikasi itu tergantung komponen makna yang dimiliki oleh kata yang menjadi kata dasar itu.
            Makna gramatikal yang dapat dihasilkan dalam proses reduplikasi terhadap dasar verba antara lain:
·         Kejadian berulang kali. Memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-durasi)
Contoh: 
-          dari tadi beliau marah-marah terus
-          jangan menembak-nembak semabarang
·         Kejadian berintensitas
Contoh:
-          Kami berjalan-jalan mengelilingi kebun raya bogor
-          Mereke berlari-lari di halaman sekolah
·         Kejadian berbalasan
Contoh:
-          Terjadi tembak menembak antara grilyawan palestina dan tentara israel
-          Kita tidak boleh salah-menyalahkan terlebih dulu.
·         Dilakukan tanpa tujuan (dasar)
Contoh:
-          Mari kita duduk di taman depan
-          Ayo kita jalan-jalan sebentar
·         Hal tindakan
Contoh:
-          Menerima pekerjaan ketik-mengetik
-          Dalam soal tari menari dia memang ahlinya
·         Begitu (dasar)
Contoh:
-          Saya tdak sadar, tahu-tahu dia sudah berada di depanku
-          Rupanya dia lapar sekali, pulang-pulang minta makan

8.     Reduplikasi Adjektiva
Adjektiva sebagai brntuk dasar dalam proses reduplikasi dapat berupa akar seperti merah dan tinggi. Dapat berupa akata turunan seperti kemerahan dan kehijauan, dan dapat berupa kata gabung seperti merah darah dan kuning telur. Yang lazim direduplikasikan adalah akar.
            Reduplikasi pada dasar adjektiva dapat menghasilkan makna gramatikal, jika memiliki komponen makna (+keadaan) dan (+ukuran). Contohnya:
·         Banya yang (dasar)
Contoh:
-          Ikannya masih kecil-kecil, jangan ditangkap dulu
-          Rumah-rumah di daerah situ bagus-bagus
·         Se (dasar) mungkin
Contoh:
-          Bukalah jendela lebar-lebar
-          Dengarkan baik-baik nasehat guru
Tampak makna gramatikal ‘se (dasar) mungkin’  dapatlah digunakna dalam kalimat imperatif (perintah)
·         Hanya yang (dasar)
Contoh:
-          Ambil yang baik-baik, tinggalkan yang buruk-buruk
-          Kumpulkan buah itu, yang besar-besar saja
Makna gramatikal ini dapat digunakan dalam kalimat impertif dan menyatakan pilihan.
·         Sedikit bersifat (dasar)
Contoh:
-          Dari jauh warna air laut tampak kebiru-biruan
-          Warna bajunya putih kehijau-hujauan
·         Meskipun (dasar)
Contoh:
-          Jauh0jauh saya datang, tapi orangnya tidak ada
-          Kecil-kecil berani dia melawan preman
·         Semua (dasar) dengan
Contoh:
-          Nyamuk itu segede-gede lalat hijau
-          Daunya selebar-lebar telinga gajah
·         Intensitas
Contoh:
-          Kamu jangan membesar-besarkan masalah yang spele ini.
-          Janganlah kamu melemah-lemahkan semangat dia.

9.     Reduplikasi Dasar Kelas Tertutup
Katakelas tertutup adalah kata-kata yang keanggotaannya sukar bertambah atau berkurang, dan julmalah keanggotaanya relatif terbatas. Yang termasuk kelas tertutup adalah kata-kata yang tersuk dalam adverbia, pronomina, numerlia, artikulus, interjeksi. Kelas tertutup ini pun ada yang mengalami reduplikasi, tapi makna dari proses tersebut sukar dikaidahkan. Sebab jumlahnya terbatas, maka di jelaskan sebagai berikut,

9.1. reduplikasi Dasar Adverbia Negasi
Kosakata adverbia negasi adalah bukan,tidak, tak, dan tiada. Yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah bukan dan tidak. Contoh:
-          Di sini kamu jangan bicara yang bukan-bukan
-          Anak itu selalu menangis meminta yang tidak-tidak
Reduplikasi tersebut mempunyai distribusi yang sama atau dapat dipertukarkan. Tanpa reduplikasi negasi bukan berkaitang dengan nomina, sedangkan negasi tidak berkaitan dengan adjektifa dan verba.

9.2. reduplikasi Dasar Adverbia Larangan
Kosakata adverbia larangan adalah jangan dan tidak boleh, yang berkenaan dengan rediplikasi hanyalah akar jangan sperti,
-          Hari ini dia tidakmasuk sekolah, kemarin juga tidak masuk, jangan-jangan dia sakit,
-          Mari kita segera pulang, jangan-jangan ayah sudah di rumah.
Dari contoh di atas bentuk redupliksi janga-jangan tidak lagi berkenaan dengan “laranga”, melainkan telah berubah menjadi konjungsi intraklimat yang menyatakan hubungan antara klausa dengan makna menghubungkan dan rasa khaswatir.

9.3. reduplikasi Dasar Adverbia Kala
Kosakata adverbia kala adalah kata-kata sudah dan telah untuk menyatakan kala lampau, sedang, tengah, dan lagi untuk menyatakan bahwa kini, akan dan mau untuk menyatakan kala yang akan datang. Contohnya:
-          Kalau mengingat yang sudah-sudah kami memang kasihan padanya
-          Kerjanya hanya megumpulkan harta seakan-akan dia bisa hidup selamanya.
Bentuk (yang) sudah-sudah pada kalimat (1) memiliki makna ‘segala peristiwa atau kejadian yang pernah dialami’ sedangakan seakan-akan pada kalimat (2) sama dengan ‘seolah-olah’.
Sedang sebagai adverbia kala tidak mengalami proses reduplikasi tetapi sebagai adverbia kualitatif bisa direduplikasikan. Contoh:
-          Tidak usah yang terbaik, cukup yang sedang-sedang saja
Tengah sebagai adverbia kala tidak mengalami proses reduplikasi , tapi sebagai nomina tempat. Contoh: (di) tengah-tengah, sebagai numerlia tengah menjadi setengah-setengah.
Lagi, sebagai adverbia kala juga tidak mengalmi prose reduplikasi, tetapi sebagai adverbia frekuensi dapat yaitu menjadi lagi-lagi. Contoh:
-          Lagi-lagi saya yang disuruh menjaga anak itu.
Mau, sebagai averbia kala juga tidak mengami proses reduplikasi, tetapi sebagai makna ‘ingin’ dapat direduplikasikan. Seperti tampak dalam kalimat,
-          Jangan bekerja semau-maunya saja.

9.4. reduplikasi Dasar Adverbia Keharusan
Kosakata adverbia keharusan adalah barangkali; kali, dan mungkin yang menyatakan kemungkinan; mesti, harus, dan wajib yang menyataka keharusan; dan boleh yang menyatakan kebolehan. Sebagai adverbia keharusan yang terlibat dalam reduplikasi hanyalah kali, mau dan boleh. Sepert:
-          Mari kita singgah ke rumah beliau, kali-kali saja dia ada di rumah
-          Jangan bekerja semau-maunya saja
-          Boleh-boleh saja kalau anda mau mengajukan usul itu.

9.5. reduplikasi Dasar Adverbia Jumlah
Kosakata adverbia jumlah adalah banyak, sedikit, lebih, kurang, dan cukup. Semua terlibat dalam proses reduplikasi. Contoh:
-          Setelah diberi gula harus diberi air banyak-banyak (memiliki makna banya sehingga tidak kekurangan)
-          Beri dia minum sedikit-sedikit (memiliki makna sedikit demi-sedikit)
-          Hawa disini sangat dingin, lebih-lebih pada pagi hari ( makna menegaskan)
-          Sekurang-kuranya kami bisa membantu sejuta ( makna paling kurang)
-          Kebutuhan mereka akan kami penuhi secukup-cukupnya (makna secukupnya sampai tidak kekurangan).

9.6 Reduplikasi Dasar Adverbia Taraf
Kosakata adverbia taraf adalah agak, sangat, amat, sekali, sedang, kurang, dan paling. Yang terlibat dalam proses reduplikasi hanyalah agak  dan paling. Contoh:
-          Harus dihitung yang benar, jangan mengagak-agak saja (makna mengira-ngira)
-          Harganya pling-paling serubu rupiah ( makna yang paling mahal atau murah hanyalah)
Kata sangat, amat dan sekali sebenarnya sama dengan makna paling. Namun tidak terlibat dalam proses reduplikasi. Begitupun juga kata sedang dan kurang.

9.7. reduolikasi Dasar Adverbia Frekuensi
Kosakata frekuensi adalah sekali, jarang, sering dan lagi. Contoh:
-          Sekali-kali dia datang juga ke sini ( makna datang ‘tetapi tidak sering’)
-          Jangan sekali-kali kau langgar peraturan (makna tidak sama sekali)
-          Beliau memang sudah jarang-jarang kesini (datang ‘tetapi jarang’)
-          Sering-sering kau kemari (makna jarang-jarang)
-          Lgi-lagi dia yang tidak hadir (makna pengulangan)

9.8 Reduplikasi Adverbia Dasar Tanya
Koasakata adverbia tanya adalah apa, siapa, berapa, mana, kenapa, mengapa, dan bagaimana. Contoh:
-          Kalau ada apa-apa dengan beliau, tolong baritahu kami (ada ‘kejadian’ apa saja)
-          Dia bukan siapa-siapa, jadi jangan takut (makna ‘orang’ yang tidak ada kelebihannya)
-          Barangnya memang bagus, dan beragam, tetapi berpa-berpa harganya saya tidak tahu (makna kepastian barangnya)
-          Mana-mana yang tidak diperlukan sebaiknya dibuang asaja (makna benda-benda atau hal-hal)
-          Semau kejadian di sana sudah saya dengar, tetapi mengapa-mengapanya saya tidak tahu (makna ‘terjadi’ sesuatu)

9.9 Reduplikasi Dasar Pronomina Presona
Kosakata pronomina adalah saya dan aku sebagai orang pertama tunggal, kami sebagai orang pertama jamak eksklusif. Kita sebagai orang pertama inklusif, kamu, engkau, anda, sebagai orang kedua tunggal; kalian dan kamu sekalian sebagai dan mereka-mereka sebagai orang ketiga jamak. Contoh:
-          Kalau ada masalah saya-saya juga yang dimintai tolong
-          Kami-kami ini sering membantu pekerjaan beliau
-          Yang tidak setuju ternyata mereke-mereka juga
Makna reduplikasi pada bentuk dasa pronomina persona adalah menyatakan penegasan, bukan menyatakan makana jamak, sehingga penggunaan kata kmi-kami, kita-kita dan mereka-mereka adalah berterima. Pemikiran bahwa makna reduplikasi hanya menyatakan jamak. Padahal dalam hal ini bukan bermakna jamak, melainkan bermakna penegasan.

9.10. Reduplikasi Dasar Pronomina Demonstratifa
Kosakata pronomina demonstratifa adalah ini, itu, begini, dan begitu. Contoh:
-          Mengapa yang ini-ini saja yang kamu tuntut ( makna hanya ini)
-          Sejak dulu sampai sekarang itu-itu saja yang dibicarakan (makna hannya itu)
-          Begini-begini saya ini dulunya anak orang kaya (makna meskipun begitu)
-          Keadaan dari dulu smpai sekarang begitu-begitu saja, tidak ada perubahan (hanya begitu)

9.11. Reduplikasi Dasar Konjungsi Koordinatif
Kosakata konjungsi adalah dan yang menyataka ‘gabungan’; serta menyatakan ‘kesertaan’; tetapi dan melainkan menyatakan ‘kebalikan’; bahwa dan malah (an) yang menyatakan ‘penguatan’; kemudian, setelah, sesudah dan lalu yang menyatakan ‘hubungan waktu’. Semua tidak terlibat dalam proses reduplikasi.

9.12. Reduplikasi Dasar Numerlia
Kosakata numerlia adalah satu, dua, ............., seratu, seribu, setengah, seperempat dan sebaginya. Contonh:
-          Anal-anak itu dibariskan dua-dua
-          Mereka di beri uang seratu-seratus
-          Obat itu dimakan setengah-setengah saja
Tampaknya makna reduplikasi pada dasar bilangan adalah sama.

9.13. Reduplikasi Dasar Konjungsi Subordinatif
Koasakata konjungsi subordinatif adalah karena, sebab, asal, lantaran yang menghubungkan menyatakan ‘sebab’; kali, jika, jikalau, andai, andaikan dan sebagianya yang menghubungkan menyatakan ‘persyaratan’; meski (pun), biar (pun), walau (pun), kendati (pun) yang menghubungkan menyatakan ‘penguatan’; hingga, sehingga, dan sampai menghubungkan menyatakan ‘batas’; kecuali, yang menghubungkan menyatakan ‘perkecualian’.  Namun yang terlibat dalam proses reduplikasi hanya kalau, andai, dan sampai. Contoh:
-          Mari kita ke kebun, kalau-kalu ada durian jatuh (makna kemungkinan yang di harapkan memberi keuntungan)
-          Kami Cuma berandai-andai, tidak memikiran yang sebenarnya (makna melakukan andai-andai)
-          Dia menyamar sebagai perempuan, samapai-sampai kita tidak dapat mengenalinya. (makna akibat dari suatu perbuatan).






           

Daftar Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Garmedia.
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...