Usur konstruksi
kata
A. Kontruksi
Kata
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kontruksi berati susunan dan hubungan kata
dalam kalimat atau kelompok kata. Sedangakan “kata” ialah satuan bahasa yang
dapat berdiri sendri, terjadi dari morfem tunggal dan dianggap satuan terkecil
yang dapat di ujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Sebuah kata
sendiri dapat dibentuk melalui penggabungan dua atau lebih morfem. Morfem yang
membentuk kata dapat berupa morfem terikat, morfem bebas, atau kata, baik kata
majemuk maupun kata berimbuhan. Proses pembentukan kata disebut proses
morfologis.
Kata merupakan
bentukan terkecil misalnya, kita, datang,
baik, pura-pura, itu disebut morfem dan bentukan-bentukan itu memiliki
sifat bebas. Artinya, bentukan itu bisa hadir secara mandiri dalam tuturan
biasa. Bentukan bebas seperti itu termasuk kata yang terdiri atas satu morfem.
Begitupun juga dengan bentukan kata seperti, pelajaran, memberitahukan, pemberitahuan, bentuk-bentuk itu terdiri
atas lebih dari satu morfem dan memiliki sifat bebas. Maka, bentukan-bentukan
tersebutpun termasuk kedalam kata. Jadi, kata adalah bentukan morfologis, baik
yang terdiri atas satu morfem atau lebih yang memiliki sifat bebas.
B. Akar
Kata dan Pokok Kata
Akar kata
merupakan istilah linguistik. Akar kata memiliki makna inti. Misalnya, bukit, rakit, bangkit, ungkit, dll. Dapat disimpulkan
bahwa kata dasarnya adalah kit.
Pokok kata merupakan istilah morfologi yang artinya bentukan terikat yang tidak
sama dengan afiks, preposisi, konjungsi, dan kata-kata keterangan. Bentukan
pokok kata ini bisa terdiri atas satu morfem atau juga bisa lebih dari satu
morfem. Misalnya, juang, temu, baca,
tekan, besarkan, persatukan, perhitungkan, besar-besarkan, itu semua
merupakan bentuk pokok kata karena memiliki sifat terikat. Lalu pokok kata
tersebut menjadi kata (bersifat bebas) setelah digabungkan dengan morfem lain.
Misalnya, berjuang, bertemu, membaca,
tekanan, dibesarkan, mempersatukan, diperhitungkan, dibear-besarkan. Itu
semua merupakan bentuk terikat bidang morfologis kerena merupakan unsur
pembangun kata.
C. Kata
Dasar dan Kata Dasar Skunder
Kata dasar
adalah semua kata (bentuk bebas) yang belum mengalami proses morfologi baik
afiksasi, redupilkasi, maupun komposisi. Misalnya kata-kata pohon, duduk, datang, pergi, merupakan
dasar dasar dari dari bentukan pohon-pohon,
duduki, kedatangan, kepergian. Sementara itu morfem dari, pada, belum, akan, dan lain-lain yang sejenis dengan itu,
tidak tergolong kata dasar, melainkan bentuk-bentuk tersebut bisa disebut
bentuk asal atau bentuk dasar.
Kata dasar
skunder adalah semua kata yang sudah mengalami proses morfologis, tetapi
dianggap sebagai kata atau bentuk asal. Misalnya, berapa (ber- apa), mengapa (meN- apa), ialah (ia-lah), telapak (tapak +
-el-), telunjuk (tunjuk + -el-), lelaki (laki + reduplikasi dwipurwa).
D. Bentuk
Asal, Bentuk Dasar, Unsur, dan Unsur Bawahan langsung
1. Bentuk
Asal ialah sebuah bentuk
(morfem) tunggal yang merupakan asal dari bentukan-bentukan kompleks. Bentuk
asal yang tertera dalam diagram di atas adalah mudan dan pahan.
2.
Bentuk Dasara ialah bentukan-bentukan baik tunggal maupun bentuk kompleks yang menjadi
dasara terbentuknya untuk yang ada di lapis atasnya. Dengan kata lain bentuk
dasar ialah bentuk utama yang menjadi unsur bawahan langsung dari sebuah
bentukan. Bentuk dasar dari dipermudah
adalah permudah, dan bentukan dasar
dari permudah adalah mudah.
3. Unsur
dari sebuah bentukan adalah
semua bentukan terkecil (morfem) yang membentuk sebuah bentukan kompleks,
Misalnya, bentukan ketidakterpahamiannya
terdiri atas enam unsur, yakni –nya, ke-an, tidak, ter-, -i, paham
4. Unsur
bawahan langsung adalah unsur
baik bentuk tunggal maupun bentuk komplek yang secra langsung membentuk bentukan
yang berada di atasnya. Misalnya, unsur langsung bentukan dipermudah adalah di- dan
permudah. Unsur langsung bentukan permudah adalah per- dan mudah. Tidak
selamanya unsur langsung itu terdiri atas dua komponen. Bentuk kata berulanng
misalnya bentuk kompleks berpandang-pandangan,
sebaik-baiknya, dll.

E. Bentuk
Infletif dan Derivatif
dalam
pembentukan inflektif identitas leksikal kata yang dihasilkan sama dengan
identitas leksikal bentuk dasarnya. sebaliknya, dalam proses pembentukan
derivatif identitas bentuk yang dihailkan tidak sama dengan identitas leksikal
bentuk dasarnya. Kasus inflektif dan derifatif dalam pembetukan kata membeli dari dasar beli adalah sebuah kasus inflektif, tetpai dalam pembentukan kata pembeli dari dasar beli adalah sebuah kasus derivatif. Dasar beli dan kata membeli
sama-sama berkatagori verba. Sedangkan, dasar beli dan kata pembeli
tidak sama kategorinya. Beli adalah verba dan pembeli adalah nomina.
Kasus
inflektif dalam bahasa indonesia hanya terdapat dalam pembentukan verba
transitif, yaitu dengan prefiks me-
untuk verba transitif aktif, dengan prifiks di-
untuk verba transitif pasif rindakan, dengan prefiks ter- untuk verba transitif pasif keadaan, dan denagan prefiks zero
untuk verba imperatif.
Indikator
untuk mengenal verba derivatif adalah bahwa prefiks me- pada kata itu tidak dapat diganti dengan prefiks di- maupun prefiks ter-. Sedangkan verba inflektif, prefiks me- yang dimilikinya dapat
di pertukarkan dengan prefiks di-
atau prefiks ter-.
Daftar Pustaka
Iyo Mulyono. (2013). Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi Teori dan
Sejumput Probelmatika, Bandung: CV Yrama Widya.
Widya Ratna Dewi, Wendi. (2009).
Morfologi Bahasa Indonesia, Klaten:
PT Intan Pariwara.
Chaer, Abdul. (2015). Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan
Proses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar