Rabu, 03 Januari 2018

Usur konstruksi kata



Usur konstruksi kata
           
A.    Kontruksi Kata
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kontruksi berati susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata. Sedangakan “kata” ialah satuan bahasa yang dapat berdiri sendri, terjadi dari morfem tunggal dan dianggap satuan terkecil yang dapat di ujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Sebuah kata sendiri dapat dibentuk melalui penggabungan dua atau lebih morfem. Morfem yang membentuk kata dapat berupa morfem terikat, morfem bebas, atau kata, baik kata majemuk maupun kata berimbuhan. Proses pembentukan kata disebut proses morfologis.
Kata merupakan bentukan terkecil misalnya, kita, datang, baik, pura-pura, itu disebut morfem dan bentukan-bentukan itu memiliki sifat bebas. Artinya, bentukan itu bisa hadir secara mandiri dalam tuturan biasa. Bentukan bebas seperti itu termasuk kata yang terdiri atas satu morfem. Begitupun juga dengan bentukan kata seperti, pelajaran, memberitahukan, pemberitahuan, bentuk-bentuk itu terdiri atas lebih dari satu morfem dan memiliki sifat bebas. Maka, bentukan-bentukan tersebutpun termasuk kedalam kata. Jadi, kata adalah bentukan morfologis, baik yang terdiri atas satu morfem atau lebih yang memiliki sifat bebas.

B.     Akar Kata dan Pokok Kata
Akar kata merupakan istilah linguistik. Akar kata memiliki makna inti. Misalnya, bukit, rakit, bangkit, ungkit, dll. Dapat disimpulkan bahwa kata dasarnya adalah kit. Pokok kata merupakan istilah morfologi yang artinya bentukan terikat yang tidak sama dengan afiks, preposisi, konjungsi, dan kata-kata keterangan. Bentukan pokok kata ini bisa terdiri atas satu morfem atau juga bisa lebih dari satu morfem. Misalnya, juang, temu, baca, tekan, besarkan, persatukan, perhitungkan, besar-besarkan, itu semua merupakan bentuk pokok kata karena memiliki sifat terikat. Lalu pokok kata tersebut menjadi kata (bersifat bebas) setelah digabungkan dengan morfem lain. Misalnya, berjuang, bertemu, membaca, tekanan, dibesarkan, mempersatukan, diperhitungkan, dibear-besarkan. Itu semua merupakan bentuk terikat bidang morfologis kerena merupakan unsur pembangun kata.


C.    Kata Dasar dan Kata Dasar Skunder
Kata dasar adalah semua kata (bentuk bebas) yang belum mengalami proses morfologi baik afiksasi, redupilkasi, maupun komposisi. Misalnya kata-kata pohon, duduk, datang, pergi, merupakan dasar dasar dari dari bentukan pohon-pohon, duduki, kedatangan, kepergian. Sementara itu morfem dari, pada, belum, akan, dan lain-lain yang sejenis dengan itu, tidak tergolong kata dasar, melainkan bentuk-bentuk tersebut bisa disebut bentuk asal atau bentuk dasar.
Kata dasar skunder adalah semua kata yang sudah mengalami proses morfologis, tetapi dianggap sebagai kata atau bentuk asal. Misalnya, berapa (ber- apa), mengapa (meN- apa), ialah (ia-lah), telapak (tapak + -el-), telunjuk (tunjuk + -el-), lelaki (laki + reduplikasi dwipurwa).

D.    Bentuk Asal, Bentuk Dasar, Unsur, dan Unsur Bawahan langsung
         
1.      Bentuk Asal ialah sebuah bentuk (morfem) tunggal yang merupakan asal dari bentukan-bentukan kompleks. Bentuk asal yang tertera dalam diagram di atas adalah mudan dan pahan.
2.      Bentuk Dasara ialah bentukan-bentukan baik tunggal maupun bentuk kompleks yang menjadi dasara terbentuknya untuk yang ada di lapis atasnya. Dengan kata lain bentuk dasar ialah bentuk utama yang menjadi unsur bawahan langsung dari sebuah bentukan. Bentuk dasar dari dipermudah adalah permudah, dan bentukan dasar dari permudah adalah mudah.
3.      Unsur dari sebuah bentukan adalah semua bentukan terkecil (morfem) yang membentuk sebuah bentukan kompleks, Misalnya, bentukan ketidakterpahamiannya terdiri  atas enam unsur, yakni –nya, ke-an, tidak, ter-, -i, paham
4.      Unsur bawahan langsung adalah unsur baik bentuk tunggal maupun bentuk komplek yang secra langsung membentuk bentukan yang berada di atasnya. Misalnya, unsur langsung bentukan dipermudah adalah di- dan permudah. Unsur langsung bentukan permudah adalah per- dan mudah. Tidak selamanya unsur langsung itu terdiri atas dua komponen. Bentuk kata berulanng misalnya bentuk kompleks berpandang-pandangan, sebaik-baiknya, dll.


E.     Bentuk Infletif dan Derivatif
dalam pembentukan inflektif identitas leksikal kata yang dihasilkan sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya. sebaliknya, dalam proses pembentukan derivatif identitas bentuk yang dihailkan tidak sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya. Kasus inflektif dan derifatif dalam pembetukan kata membeli dari dasar beli adalah sebuah kasus inflektif, tetpai dalam pembentukan kata pembeli dari dasar beli adalah sebuah kasus derivatif. Dasar beli dan kata membeli sama-sama berkatagori verba. Sedangkan, dasar beli dan kata pembeli tidak sama kategorinya. Beli adalah verba dan pembeli adalah nomina.
Kasus inflektif dalam bahasa indonesia hanya terdapat dalam pembentukan verba transitif, yaitu dengan prefiks me- untuk verba transitif aktif, dengan prifiks di- untuk verba transitif pasif rindakan, dengan prefiks ter- untuk verba transitif pasif keadaan, dan denagan prefiks zero untuk verba imperatif.
Indikator untuk mengenal verba derivatif adalah bahwa prefiks me- pada kata itu tidak dapat diganti dengan prefiks di- maupun prefiks ter-. Sedangkan verba inflektif, prefiks me- yang dimilikinya dapat di pertukarkan dengan prefiks di- atau prefiks ter-.






Daftar Pustaka

Iyo Mulyono. (2013). Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi Teori dan Sejumput Probelmatika, Bandung: CV Yrama Widya.
Widya Ratna Dewi, Wendi. (2009). Morfologi Bahasa Indonesia, Klaten: PT Intan Pariwara.
Chaer, Abdul. (2015). Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...