Rabu, 03 Januari 2018

Konsep Dasar Proses Morfologis



Konsep Dasar Proses Morfologis


1.      Konsep Dasar Morfologi
a.      Pengertian
Proses morfologi ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan yang lain (Samsuri, 1982:190). atau, proses yang dialami bentuk-bentuk lingual dalam menyusun kata-kata (Ahmadslamet, 1982:58). Sedangkan menurut Ramlan (1983:44) proses morfologi ialah pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Contoh: Rumah, perumahan, rumah-rumah, rumah makan.
dari contoh di atas rumah adalah bentuk dasar, kemudian menghasilakan kat-kata bau perumahan, rumah-rumah, dan rumah makan. Kata perumahan melalui proses afiks konfiks yang memperoleh imbuhan per-an dari kata dasar rumah, kata rumah-rumah melalui proses reduplikasi dan rumah makan melalui proses komposisi (penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar). Proses pelekatan afiks, pengulangan bentuk dasar, dan penggabungan bentuk dasar dengan bentuk lain. Itualah proses morfologis dan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
b.      Ciri Suatu Kata yang Mengalami Proses Morfologis
Morfem-morfem yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda-beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai penggabungan ada yang berfungsi sebagai penggabung. Contoh, morfem sikat, bangun, baling, berfungsi sebagai tempat penggabungan, sedangkan morfem meN-, peN-, ulang, berfungsi sebagai penggabung.Morfem yang sebagai tempat penggabungan biasanya disebut bentuk dasar.
Di samping itu,dilihat dari wujudnya , bentuk dasar dapat berupa pokok kata ,bahkan berupa kelompok kata. Misalnya bentuk dasar dari kata menemukan , berjuang , dan perhubungan adalah temu, juang dan hubung. Ciri lain bahwa suatu kata mengalami proses morfologis adalah penggabungan atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti. Misalnya bentuk dasar cangkul setelah digabung dengan morfem meN- menjadi kata mencangkul, yang berarti ‘melakukan pekerjaan dengan alat cangkul’, sedangkan bentuk dasar juang setelah digabung morfem ber-, sehingga menjadi kata berjuang yang artinya menjadi ‘melakukan tindakan juang’.Dengan demikian, apabila ada satu kata yang seolah-olah mengalami perubahan dari bentuk dasarnya, tetapi sama sekali tidak diikuti oleh penambahan atau perubahan arti, peristiwa ini tidak bisa dikatakan sebagai hasil proses morfologis. Contoh kata membantu, kata itu sebagai hasil perpaduan bentuk dasar bantu dan afiks meN-. Berpadunya afiks meN- dengan bentuk dasar bantu diikuti dengan penyesuaian bunyi, yaitu dari meN- menjadi mem. Penyesuaian ini didasarkan atas sifat bunyi awal bentuk dasarnya, karena bunyi awal bentuk dasar bantu adalah billabial (bunyi bibir), bunyi akhir afiks meN- juga menyesuaikan diri menjadi bunyi nasal bilabial sehingga menjadi mem,misal penggabungan meN- dengan basmi, buat, bidik menjadi membasmi, membuat, membidik.
c.       Macam-macam Proses Morfologi
Samsuri (1982:190) menuliskan bahwa proses morfologis itu ada lima macam, yakni: (1) afiksasi, (2) reduplikasi, (3) perubahan intern, (4) suplisi, dan (5) modifikasi kosong. Sedangkan Verhaar (1984:64) dan Ramlan (1983:46) menambahkan satu lagi yaitu komposisi atau pemajemukan. Keenam proses morfologis tersebut terjadi pada bahasa-bahasa yang ada di dunia. Pada bagian ini, penulis hanya akan memaparkan kilas. Sedangkan pada bagian lain, akan dipaparkan secara rinci yakni proses morfologis yang ada pada bahasa Indonesia. Agar lebih jelas, secara sekilas akan dipaparkan satu persatu.
        1) Afiksasi
            Afiksasi atau proses pembubuhan imbuhan ialah pembentukan kata dengan cara melekatkan afiks pada bentuk dasar. Hasil afiksasi disebut kata berafiks atau kata berimbuhan. Contohnya: ber- pada berkembang, -el- pada telunjuk, -an pada lemparan, dan per-an pada perjanjian. Paparan lebih rinci akan dibahas pada afiksasi bahasa Indonesia.
      2) Reduplikasi
          Reduplikasi ialah proses pembentukan kata dengan cara suatu bentuk dasar. Proses morfologis semacam ini merupakan salah satu cara pembentukan kata yang paling banyak pada bahasa-bahasa di dunia. Sebagai contoh: buku menjadi buku-buku, bali menjadi bola-bali (bahasa Jawa), adanuk menjadi adadanuk ‘panjang’ (bahasa Agta). Paparan reduplikasi ini juga lebih jauh dan rinci akan dibahas pada reduplikasi bahasa Indonesia.
  3) Perubahan Intern
Perubahan intern ialah pembentukan kata dengan cara mengubah struktur fonem dasar sehingga menghasilkan bentuk baru, sebagai contoh perhatikanlah satuan-satuan berikut!


Tunggal
/fut/
/mæn/

Waktu Sekarang
/ran/
/teyk/
Jamak
/fiyt/
/mεn/

Waktu Lampau
/ræn/
/tuk/
Arti
‘kaki’
‘laki-laki’

Arti
‘lari’
‘mengambil’

           Bentuk jamak (kata benda) maupun waktu lampau (kata kerja) tidak dapat kita ambil bagian mana yang menyatakan makna tersebut. Namun dari contoh di atas, kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa yang menyatakan makna jumlah ialah perubahan /u/ menjadi /iy/ dan /æ/ menjadi /δ/ pada kata foot menjadi feet dan man menjadi men atau /a/ menjadi /æ/ dan /ey/ menjadi /u/ pada kata run menjadi ran atau teek menjadi took. Oleh karena itu, proses morfolois seperti itu disebut perubahan intern (intern modification).
          4) Suplisi
        Suplisi merupakan salah satu proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk baru. Bentuk dasar dan bentuk turunannya tidak terdapat persamaan sedikitpun. Untuk contoh ini, kita ambil dari bahasa Inggris.

Waktu Kini
/gow/
/æ/
Waktu Lampau
/wεnt/
/wz/
Arti
‘pergi’
‘adalah’
            Dari dua contoh di atas kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa bentuk go dan am untuk waktu kini (sekarang) berubah menjadi went dan was untuk menyatakan waktu lampau. Bentuk lampau tersebut seolah-olah bukan perubahn dari bentuk kini, seolah-olah begitulah adanya. Proses morfologis seperti itu dinamakan suplisi.
           5) Modifikasi Kosong
            Komposisi atau pemajemukan adalah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan dua buah bentuk atau satuan dasar(bentuk asal) atau lebih. Sebagai contoh perhatikanlah bentuk-bentuk berikut.
            flower + sun          sunflower
            mata + sapi            mata sapi (telur)
d.      Makna Gramatikal
Darwis Harahap (1994:49), telah menyatakan bahawa gramatikal itu bermaksud nahuan atau tatabahasa dan makna gramatikal merupakan makna yang muncul akibat proses gramatikalnya. Makna gramatis ini ialah makna yang terkandung dalam imbuhan apabila ia bergabung dengan kata dasar maupun dengan perkataan yang telah mendapat pengimbuhan sebelumnya atau kata terbitan. Makna gramatikal juga merupakan makna yang ditimbulkan oleh proses  gramatis yang ditentukan oleh urutan kata, intonasi, dan juga bentuk. Abdullah Yusof (2009 : 3 ) telah menjelaskan bahawa makna gramatikal adalah bidang kajian semantik yang mengkaji makna yang hadir daripada proses gramatikal, seperti pengimbuhan, penggandaan  dan pemajmukan.

Proses Gramatikal :
·         Penyisipan
Sisipan ini merupakan sejenis imbuhan kerana bentuk yang ditambahkan pada kata dasar. Sisipan hadir di celah kata dasar. Walau bagaimanapun, sisipan tidak produktif lagi kerana sisipan tidak dapat menghasilkan bentuk-bentuk terbitan yang baru.  Dalam bahasa Melayu terdapat empat bentuk sisipan, yaitu –em-, el-, er, dan –in-, seperti selerak, gemuruh dan juga kerlip. Semua makna di atas mendukung makna ‘bersifat’. Manakala bentuk sisipan kata kerja, yaitu –el, er-, dan –em.
·         Penmajmukan / Penggabungan
Dalam kamus Tatat bahasa Dewan Edisi ketiga telah mendefinisikan proses majemuk ialah proses yang merangkaikan dua kata dasar atau lebih dan bentuk yang terhasil membawa makna tertentu. Menurut Abdullah Hassan (2002 : 11) pula, kata majmuk terdiri dari dua perkataan atau lebih, tetapi bertabiat sama seperti satu perkataan. Makna kata majmuk merupakan makna gramatikal kerana makna itu hadir setelah terjadinya proses gramatikal, iaitu proses penmajmukan.
Makna kata majmuk berkaitan hubungan makna antara unsure yang membentuk paduan itu, hal ini ada atau tidak ada makna yang muncul dari hubungan makna antara unsur pertama dengan unsur  yang kedua dari paduan tersebut. Makna kata majmuk ini merupakan dua atau lebih kata yang digabungkan dan membawa makna baru yang berbeda dengan maksud asal kata tersebut.
·         Pengimbuhan
Dalam proses gramatikal terdapat proses pengimbuhan bentu kata yang terjadi kerena penggunaan imbuhan terhadap kata dasar yang akan melahirkan makna-makna gramatis. Kata imbuhan merupakan bentuk kata yang mengandung kata dasar yang telah menerima imbuhan, prefiks, infiks, sufiks, konfiks. Proses pengimbuhan dalam bahasa Melayu merupakan satu cara untuk mengembangkan kata dasar. Contohnya, dari kata dasar batas, dapat diberikan berbagai pegimbuhan pada kata tersebut seperti dibatas, perbatasan, batasan, membataskan, keterbatasan dan pembatasan. Hal ini menunjukkan jika proses gramtikal tersebut telah berlaku proses gramatikal maka makna kata tersebut juga akan berubah menjadi berbagai kegunaan dalam aplikasi bahasa.
e.       Hasil Proses Pembentukan
Menurut Chaer (2015:28) mengungkapakan bahwa proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk kata dan makna gramatikal. Wujud fisik dari hasil proses afikasasi adalah kata beraiks, disebut juga kata berimbuhan, kata turunan, atau kata terbitan. Wujud fisik ari proses reduplikasi adalah kata ulang, atau disebut juga bentuk ulang. Wujud fisik dari hasil proses komposisi adalah kata gabung, disebut juga gabungan kata, kelompok kata, atau kata majemuk.
f.       Pembentukan Kata diluar Proses Morfologis
Pembentukan kata di luar proses morfologi di bentuk melalui beberapa cara yaitu, akronim, abreviasi, abreviakronim, kontraksi, dan kliping.
·         Akronim: pemendekan dengan mengambil satu suku atau lebih kata-kata asalnya, misalnya:          -     krisom (krisis moneter)
-          Semabako (sembilan bahan pokok)
-          Kultum (kuliah tujuh menit)
-          Sisdiknas (sistem pendidikan nasional)
·         Abreviasi: pemendakan dengan mengambil huruf pertama setiap kata asalnya.
-          ABG (Anak Baru Gede)
-          PGTK (Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak)
-          PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)
·         Abreviakronim: gabungan dari abreviasi dan akronim
-          AKABRI
-          PEMILU
·         Kontraksi: pemendekan dengan pengerutan bentuk
-          Tidak – tak
-          Saya pergi – sapi (dalam kebiasaan bahasa masyarakat Nusa Tenggara)
·         Kliping: pemendekan dengan mengambil sebagian untuk mewakili seluruh.
-          Influensa – flu
-          Dokter – dok
-          Profesor - prof






                                         
Daftar Pustaka
Samsuri, 1982. Analisa Bahasa. Jakarta: Erlangga
 Ramlan, M. 1983. Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi, Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: UP Karyono.
Chaer, Abdul. (2015). Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
https://ragambahasakita.blogspot.com/2015/08/proses-morfologi-pada-kata.html. Diakses pada hari kamis 05 Oktober 2017, pukul 22.15.
http://indodic.com/affixindo.html, di akses pukul 17.00 pada tanggal 25 September 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komposisi

KOMPOSISI Menurut Masnur (2010:57)  yang dimaksud dengan proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa bergabungnya dua morfem da...